Dari apa yang kupelajari dari Ilmu Psikiatri sekitar April-Mei tahun lalu, usia 20 adalah titik mula terpenting seseorang dalam memasuki dunia dewasa muda, setelah bertahun-tahun sebelumnya berstatus sebagai remaja. Keseluruhan siklus hidup kita memang terdiri atas fase-fase yang sambung-menyambung tanpa kecuali—selesai fase anak,memasuki fase remaja awal,lalu remaja, lalu dewasa muda, dewasa mapan,dan seterusnya. Ia tidak bisa ditolak atau ditangguhkan—misalnya sesuka apapun kita menjadi seorang remaja, mau tidak mau, begitu usia beralih 20, saat itu kita ya sudah harus menerima status kita yang sudah menjadi seorang dewasa muda. Namun, ada implikasi lanjutannya.
Tidak sekadar status, tiap fase masing-masing memiliki syarat ketercapaian yang harus dipenuhi sebelum melangkah ke fase berikutnya. Masalahnya adalah, usia tidak bisa dihentikan, bukan? Maka konsekuensinya, ketika kita pada kenyataannya belum siap menjadi dewasa muda namun mau tidak mau harus memasuki fase ini, kita memang tetap menjadi dewasa muda, namun akan terdapat masalah-masalah atau gangguan-gangguan perkembangan yang mengiringi kita selama masa ini, yang jika tidak segera diatasi, akan berimplikasi pula pada kehidupan kita di fase selanjutnya.
Maka disanalah saya,setahun lalu, di awal usia 20, mencoba memenuhi persyaratan perubahan fase saya menjadi dewasa muda. Di tahap ini saya harus sudah menemukan identitas diri saya; siapa saya,mengapa saya hidup,apa yang ingin saya lakukan dalam hidup, dan hal semacamnya. Setahun itu saya berjibaku dan merenung,hingga pada akhirnya sampai pada beberapa kesimpulan,yang akan saya tuang dalam tulisan ringkas berikut.
20 tahun ini,saya mencoba mengingati apa yang membuat hati saya tetap terjaga setiap harinya.
Di perjalanan pulang dari Kalideres menuju Tangerang, saya menemukannya. Di sepanjang jalan setiap ada perhentian, tak pernah luput ada pengamen, pengemis, anak jalanan bertebaran. Pedagang keliling memanggul jualan di bahunya, bahkan di dalam bis ramai sekali teriakan-teriakan bersemangat penjaja Koran, gunting kecil, kue-kue dalam kotak, sampai buku tipis tata cara shalat. Ada getir. Kenapa Negara se-terberkahi Indonesia—dengan letak dan sumber dayanya—tak bisa memperoleh kesejahteraan sebagaimana mestinya.
Saya mendengar hati saya berkata, “Cinta pertama saya, adalah mereka. Dimanapun saya mungkin berada, menjadi apapun saya nantinya, tetap masyarakat Indonesia-lah yang selamanya menempati hati saya..” Maka saya putuskan saat itu juga. Pengabdian untuk agama dan Negara saya—yang selama ini memang senantiasa membuat hati saya meluap-luap dan antusiasme begitu membuncah-buncah—yang saya tekadkan untuk menjadi agenda sepanjang hidup saya.
Menuju Indonesia yang madani di masa depan.
Siapa saya? Apa yang bisa saya berikan?
Menjadi mentor bagi adik-adik di SMA 3 Bandung dan FK Unpad dan merasakan sukacita mendalam selama menjalaninya membuat saya menyadari pasti bahwa saya ingin terus berkecimpung dalam dunia pembinaan sumber daya manusia terutama kepemudaan, sepanjang usia saya.
Tegak-roboh sebuah bangsa tergantung pada komponen manusianya. Kualitas kesejahteraan bangsa bahkan kerap diukur dari indeks pembangunan manusia-nya. Manusia-nya lah penentu maju-mundur Negara di masa depan. Maka,saya kemudian bisa memahami kekhawatiran Ibu Iguchi yang saya kunjungi saat menjadi siswa pertukaran AFS ke Jepang zaman SMA dulu, “Bagaimanapun Jepang sudah menjadi Negara makmur saat ini, Ibu betul-betul khawatir akan keberlanjutan negeri ini ke depannya, jika melihat bagaimana anak-anak muda semakin hari semakin kehilangan orientasi..”
“Berikan aku 10 pemuda, maka aku akan mengubah dunia!” Ir.Soekarno pun pernah berkata. Maka jelaslah, pembangunan pemuda adalah suatu hal yang niscaya. Kualitas dasar pemuda Indonesia sama sekali tidak kalah dibandingkan pemuda Negara lain. ini saya rasakan saat bersekolah di Jepang dan mengalami berkompetisi di dunia akademis dengan siswa-siswa Jepang dan beberapa Negara asing lain. tapi mengapa buah yang kita dapat masih belum mencerminkan baiknya bakal biji itu? Tentu itu berarti ada sesuatu yang harus dibenahi dalam prosesnya.
Dalam dunia kedokteran telah dinyatakan bahwa meskipun tiap manusia punya genetic yang membuatnya memiliki kecenderungan untuk menjadi sesuatu secara spesifik, namun jika lingkungan tempat ia berada tidak memadai untuk ekspresi gen itu, sifat yang dibawa takkan terekspresikan. Hal serupa terjadi pula dalam realita yang kita hadapi sehari-hari. Sebaik apapun potensi kepemimpinan seorang pemuda Indonesia misalnya, jika ia tak pernah terpapar lingkungan yang mendukung pengoptimalan potensinya, ia takkan pernah bertumbuh menjadi seorang pemimpin digdaya sampai kapanpun.
Disinilah saya menggantungkan mimpi saya. Saya bermimpi untuk mendirikan sebuah pusat pembangunan pemuda,yang tersebar di seluruh wilayah nusantara, dan saya cita-citakan bernama Sentra Muda Indonesia (Sendai). Dalam bayangan saya,ia benar-benar akan menjadi pusat, bagi manusia muda. Anggotanya adalah setiap manusia muda usia SMP dan SMA, dengan pendaftaran dibantu oleh tiap sekolah dan kawasan pemukiman. Diantara cakupannya:
1. Sentra Kesehatan Remaja (Adolescent Health Care Center)
Di Sentra ini, akan dilakukan monitoring kondisi fisik manusia muda secara berkala. Kami akan bekerjasama dengan Departemen Pendidikan setempat, sekolah-sekolah, Dinas Kesehatan setempat, Puskesmas-puskemas/dokter keluarga-dokter keluarga di wilayah itu—Sendai harapannya dapat tersebar di setiap provinsi, maka tiap cabang tersebut akan bertanggung jawab atas kualitas kesehatan manusia muda di wilayah itu. Hasil monitoring kesehatan berkala tersebut akan disertakan dalam database tiap manusia muda, disampaikan pada orang tua serta wali kelas/guru konselor di sekolah.
Selain itu, kami juga akan mengadakan penyuluhan kesehatan berkala, mengelola UKS di tiap sekolah, melatih PMR/BSMR di sekolah, serta menghimpun mahasiswa kesehatan yang hendak melakukan penelitian di sekolah.
Sentra ini akan melibatkan sejumlah dokter dan mahasiswa kedokteran dalam pelaksanannya.
Untuk mewujudkannya, saya yang kini duduk di semester 6 Fakultas Kedokteran Jurusan Pendidikan Dokter berencana untuk meneruskan studi spesialisasi Ilmu Penyakit Dalam dan selanjutnya subspesialisasi Kedokteran Remaja, insya Allah.
2. Sentra Belajar dan Konseling
Sentra ini dimaksudkan terutama untuk memastikan remaja dapat merencanakan masa depannya/rencana studinya sekaligus tempat bimbingan dan konsultasi remaja dalam menghadapi kesehariannya—dalam bidang akademis, organisasi, dan lain-lain.
Kami akan menghimpun informasi-informasi beasiswa dari berbagai sumber dan Negara serta deskripsi-deskripsi pilihan profesi yang dapat diambil remaja.
Di ranah ini kami dapat bekerja sama dengan berbagai lembaga bimbingan belajar—Nurul Fikri, SSC, dll—dan berbagai penyedia beasiswa—JF, CCF, dll.
Untuk menguatkan pemahaman saya di dunia ini, hingga kini saya masih terus berperan sebagai mentor dan life coach baik di sekolah maupun di kampus. Selain itu, kiprah saya sebagai Kepala Bidang Pengembangan Potensi Mahasiswa di kampus juga berperan sangat banyak. Akan saya jelaskan mengenai hal ini nanti.
3. Sentra Bahasa dan Literatur
Saya memilih ranah ini berangkat dari minat saya yang begitu besar dalam dunia kepenulisan serta literature. Saya melihat bahwa terlepas dari talenta yang sedemikian kentara dari manusia muda Indonesia dalam bidang ini, nyatanya budaya menulis di kalangan muda masih belum terlalu teroptimalkan. (hal ini saya rasakan pula di kampus saya.)
Di Medicinus, majalah kampus FKUnpad, saya mengambil peran sebagai staf HRD. Harapan saya, setahun ini saya dapat belajar dan berlatih untuk meningkatkan kualitas kepenulisan dan keterampilan menulis generasi muda kampus, dan pada tahap selanjutnya, generasi muda Indonesia.
Bagaimana dengan bahasa?
Indonesia dikaruniai keanekaragaman bahasa bahkan di dalam negeri, serta satu bahasa nasional yang efektif dijadikan pemersatu—dan saya pernah dengar bahkan dinyatakan sebagai salah satu bahasa termudah di dunia. Keanekaragaman bahasa itu memfasilitasi lidah orang Indonesia menjadi sangat lentur, sehingga dari pengalaman, bisa saya lihat bahwa orang Indonesia cenderung lebih mudah untuk menguasai satu bahasa dan mengucapkannya dengan aksen yang baik.
Buku itu jendela dunia; tiap buku pun tertulis dalam bahasa. Akan menjadi satu hal yang luar biasa bila semakin banyak manusia muda yang bisa menguasai beragam bahasa.
Untuk berlatih, saya berniat kuat untuk dapat menguasai beragam bahasa. Saat ini saya dapat berbicara dalam bahasa Inggris dan Jepang, ke depannya, mudah-mudahan dapat diperluas menjadi bahasa Jerman, Cina, Arab, Spanyol, Prancis, dan lain sebagainya.
4. Sentra Seni dan Olahraga
Saya bukan orang yang ahli dalam kedua bidang ini, namun sangat meyakini urgensinya dalam menunjang kesehatan seorang individu. Mudah-mudahan saya bisa menyediakan wahana dan peralatan yang dapat didayagunakan remaja untuk mengembangkan potensinya di bidang-bidang ini.
Kembali pada bidang yang saya tangani di Sema FK, satu terobosan yang saya lakukan tahun ini adalah membuat angket minat-bakat. Artinya, membuat satu daftar berisi pilihan seni (seni lukis, seni tari, seni suara, dll) serta olahraga (sepakbola, voli, basket, dll) yang dapat diisi oleh tiap mahasiswa bergantung seni dan olahraga kesukaan mereka. Ke depannya, akan dilakukan pendataan. Jika Aria, misalnya, menyukai dan/atau berbakat dalam sepakbola,maka Aria akan kami rekomendasikan untuk mengikuti unit sepakbola di kampus. Namun jika Sasa menyukai voli sementara belum ada unit voli di kampus, selanjutnya kami entah akan merekomendasikannya mengikuti unit voli di universitas, wilayah, atau jika jumlah peminat memenuhi syarat,besar kemungkinan pula kami akan menginisiasi pembentukan unit voli di kampus.
5. Sentra Sukarelawan Remaja
Bekerja sama dengan Mer-C, Rumah Zakat Indonesia, Dompet Dhuafa, PKPU, Bulan Sabit Merah Indonesia, Palang Merah Indonesia, kami akan menghimpun dan melatih remaja-remaja yang berminat dalam dunia kesukarelawanan, misalnya skill penanganan bencana, P3K, dll.
Hal ini telah kami coba lakukan di kampus dengan menyelenggarakan training P3K untuk semua mahasiswa kedokteran dan kemudian peserta pelatihan itu mengajarkannya kembali pada siswa-siswa SMA di wilayah Bandung dan Sumedang.
6. Sentra Pembinaan dan Pengembangan Diri
Di sini dapat kami sediakan buku-buku pengembangan diri untuk remaja, kami undang pembicara-pembicara-pembicara yang dapat menyampaikan nasihat, motivasi, serta inspirasinya untuk menggerakkan remaja. Remaja dapat berlatih mind map, dapat mengisi kuis potensi diri, belajar manajemen waktu dengan memanfaatkan model agenda waktu yang disediakan, dst.
Kami akan melakukan kunjungan berkala ke sekolah-sekolah. Semua fasilitas yang disediakan di Sendai dapat dimanfaatkan tanpa biaya. (Darimana saya bisa mendapatkan modal sebesar itu? J Tentu dengan menghimpun berbagai sponsor, bekerjasama dengan Departemen Pemuda dan Olahraga RI, serta hasil tabungan saya praktik sebagai dokter penyakit dalam, insya Allah.)
Tiap pemuda akan memiliki foldernya(soft copy, saya rasa) di arsip kami berisi track recordnya, lembar catatan potensi dan prestasinya, CV, laporan monitoring kondisi fisiknya, dsb). Kami juga akan mengadakan camp pre-SMA sebagai pembekalan bagi alumnus SMP sebelum memasuki masa sekolah dan selanjutnya juga camp pre-kampus sebagai introduksi dan pembekalan pula bagi alumni SMA sebelum memasuki dunia kampus.
Hal-hal saya rencanakan di atas pada umumnya telah coba saya terapkan dalam program saya sebagai Kepala Bidang Pengembangan Potensi Mahasiswa. Program kami ditujukan untuk semua mahasiswa kedokteran Unpad tanpa kecuali; kami mendata mereka semua, membuat folder bagi semua, menyelenggarakan pembinaan dasar dan pembinaan berkelanjutan, dan mencoba seimbang dalam setiap aspek: soft skill, akademis, social politik kemasyarakatan, serta minat dan bakat.
Ada satu hal lagi,sisi lain dari perjalanan akademis saya.
Di kampus saya belajar satu mata kuliah,Public Health. Demikian saya suka mata kuliah ini, terlebih lagi setelah hampir dua tahun diberi amanah sebagai kepala Kajian Strategis Ilmiah di kampus—dan banyak berkecimpung dalam isu-isu kesehatan local maupun nasional, setelah itu juga direkrut menjadi anggota Tim Pertimbangan Presiden BEM Unpad (terutama untuk isu kesehatan) serta Pengurus Harian Nasional di bidang Kajian Strategis ISMKI, mengantarkan saya pada kesimpulan bahwa saya ingin mendalami bidang ini.
Kesehatan dan pendidikan, adalah dua syarat tak tergantikan untuk mewujudkan kesejahteraan masyarakat suatu bangsa. Terutama kesehatan, yang kita lihat realitanya amat menyedihkan: masih banyak sekali penduduk Indonesia yang masih belum bisa memperoleh akses memadai ke pelayanan kesehatan dan termarjinalkan, entah karena alasan biaya maupun lokasi.
Selepas studi sarjana, saya berniat untuk melanjutkan studi Kesehatan Masyarakat dan kemudian bergabung ke Departemen Kesehatan RI, entah di bidang Kajian Kesehatan ataupun SDM Kesehatan. Diantara kesibukan menjadi pegawai negeri di Depkes RI,mengelola Sendai, maupun praktik pribadi, saya bertekad untuk dapat secara rutin mengunjungi wilayah-wilayah se-Indonesia—sampai sepelosok-pelosoknya—minimal 1 bulan 1x untuk memonitor pembangunan kesehatan dan peningkatan kualitas kesehatan di daerah masing-masing, dengan biaya (transportasi) dari tabungan saya sendiri. Hal ini akan sangat mengasyikkan, terutama karena saya sendiri sangat suka bepergian.
Pada akhirnya, hal-hal ini saya muarakan pada Indonesia yang juga akan tumbuh utuh, berkembang pesat di masa depan. Indonesia yang sejahtera secara material, spiritual, budaya, sehingga tanpa kekhawatiran akan makan apa besok, akan peluru yang bisa meluncur kapan saja, tiap manusia Indonesia dapat mengembangkan potensi dirinya, menjadi dirinya sendiri, mewujudkan suatu tatanan masyarakat yang dipenuhi kebaikan dan ketulusan. Masyarakat yang antusias untuk memperbaiki hidupnya dan bergerak merengkuh yang lainnya untuk maju bersama-sama.
Indonesia yang posisinya disegani di dunia dan bisa menyebarkan cahaya kebermanfaatannya pada Negara-negara lain pula di dunia. Amin.
Dan saya sungguh mengharapkan dengan segenap jiwa dan hati saya, bahwa satu hidup saya ini bisa bermakna sesuatu bagi terwujudnya cita-cita itu. Amin.
Rancaekek, di sela Raker BEM Unpad, Sabtu, 4 April 2009, 9:05 PM
Almira Aliyannissa