Senin, 20 April 2009

Hati-Hati Terprovokasi! (Supaya kita tetap keren-utuh-murni ^o^)

Hyah, cape banget kalau ternyata kejadiannya selalu begini.
Dengan itikad baik, demi 3 emas yang didambakan, ketua angkatan dan ketua kontingen udah berupaya banget untuk nentuin dress code tiap hari, menggalang suporter dengan masif ke tiap sesi pertandingan, nyiapin yel-yel berkobar yg penuh semangat, dan semua orang-tanpa kecuali di angkatan juga menyambut suka cita dan coba berkontribusi dengan cara masing-masing. Tapi dengan patfis yang unik, sekarang angkatan ini yang jadi sorotan hampir semua pihak di kampus sebagai angkatan yang ramai bersengketa.

Apakah kita suka bersengketa? Tentu tidak.
Banyak yang bilang ini semua karena ada pihak luar yang menstimulus. Ya, mungkin.
Tapi se-mungkin-mungkinnya, alasan apa yang cukup kuat untuk menjadi legitimasi kita boleh terpancing oleh setiap pancingan?
Ayolah.
Saya tahu kita pantas mendapatkan 3 emas-dambaan itu: dress code setiap hari mulai dari merah yang memenuhi Plaza sampai Batik unik di sepanjang AG. Hal ini keren banget. (Dan bahkan ada adik kelas kita yang terang-terangan menyatakan kagum sama angkatan kita kerena hal ini! "Mupeng, Teh, liat 2006 tiap hari kompak pake dress code!" Dan ini mengingatkan saya pada komentar salah satu temen baik saya di akhir sesi skill lab tadi, "Asik tau ada dress code! Jadi kita gak usah bingung lama2 depan lemari utk mutusin pake baju apa hari ini!" ^o^ Yaah, ini efek samping.) Yel-yel bergelora. Dan selalu masif di tiap pertandingan. Oh my God, serius ini keren banget.
Jadi,pastikan kekerenan kita tetap utuh-murni, Teman.

Meskipun emang, ini tuh bukan hal gampang.
Nahan emosi itu, dengan dalih harga diri angkatan atau harga diri pribadi, seringnya malah lebih susah daripada menangin pertandingannya itu sendiri. Ya, gak sih? Tapi nahan emosi itu penting banget. Soalnya kalau udah emosi, kita seringnya bereaksi dengan ngelakuin hal-hal yang sebenernya bisa ngerugiin diri kita sendiri. Ya itu tadi, kita udah keren-keren matching seangkatan, tapi gara-gara kail dikit, berkuranglah poin kita. (masalahnya adalah, kata temen saya yang selalu jadi saksi hidup kejadian, ujung-ujungnya selalu kita yang dikurangin poinnya. Nah bagian ini yang saya sebut di atas sebagai hal-yang-nyapein-banget-dah)

Naah disini, ada beberapa kiat yang saya coba kumpulin untuk coba diterapin kalau kita udah mulai naik pitam. (Hahaa, emang sih kalau udah marah, mana sempet mikir2 dan nginget2 kiat kayak gini, tapi ya udahlah, namanya juga usaha. Lagian, sebenernya kalau kita peka, selalu ada kok jeda sepersekian detik sebelum kita meledak, yang bisa ngasih kesempatan kita untuk narik nafas sekilas dan memutuskan untuk gak meluapkan kemarahan. Perlu latihan, siih..^^)
  • Fokus sama tujuan dan hal yang lebih besar.
Udah mau marah nih, udah mau teriak kasar, udah mau ngeluarin gestur berantem--tapi inget deh medali emas pertandingan, medali emas suporter, inget gimana bangga kita kalau angkatan kita yang bisa bawa pulang trofi Olymphiart tahun ini, gimana kalau, bahkan dibandingin dengan trofi Olymphiart--yang nyatanya selama setahun kemarin gak pernah bener-bener dibawa sama angkatan 2004 dan terdiam lama di kost-an sobat saya--setelah Olymphiart 2009 ini berakhir, Olymphiart tahun depan--hopefully cerita2 gak enak dari Olymphiart tahun ini gak sampai bikin Dekanat memutuskan untuk mencabut izin pelaksanaan Olymphiart--dan bahkan setelah kita semua ciao dari Jatinangor, dan seterusnya, angkatan 2006 tetap bisa dikenang sebagai angkatan yang sportif, kompetitif tapi tetap bisa dijadiin teladan dalam perilakunya. Biarkan kita dikenang dengan kemenangan--kayak 2001 yang keren--dan bukan dengan pertengkaran. Bisa kok!
  • Optimalin fisiologi tubuh.
Kalau lagi emosi, impuls simpatik meningkat. Padahal untuk bisa chill down, kita butuh vasodilasi. Hahaa. Jadi, sebelum mercon meledak, kalau tadinya berdiri, ayo duduk. Kalau tadinya duduk, tiduran aja dah bentar. Kalau tiduran masih kesel? Minum obat penenang. Becandaa! Cuci muka. Hahaa, tapi pas ngelakuin ini, jamin dah masalah udah beres. Lha wong pertandingan aja udah bubar, dan kalaupun kita masih pengen ngamuk, sasaran ngamuknya juga udah gak ada...
  • Gunakan pereda emosi.
Seriusan ini efektif. Zikir! Yakin aja kalau setiap orang pasti dapet ganjaran masing-masing yang adil. (Bahasan yang serius, nih) Kalaupun emang ada orang yang kita pandang ngelakuin hal gak pantes, gak etis, kadang-kadang gak perlu selalu kita yang ngasi dia pelajaran. Apalagi kalau ternyata itu malah berakibat more harms. :) Biarkan aja Tuhan yang membalas mereka...:)
  • Tanamkan pikiran positif.
Positif disini saya spesifikkan sebagai happy mental state! Saya inget banget pernyataan mantan ketua senat kita di plaza tadi siang, bagus banget, "Olymphiart di-desain diadain untuk jadi ajang semua mahasiswa bergembira, setelah biasanya 'terkungkung' oleh rutinitas dan beban akademis (gini gak sih bahasanya kang?hahaa,jangan-jangan saya lebay). Jadi jangan sampai kita lewatin momen sekali setahun yang precious ini malah dengan ketegangan dan marah-marah!"
Sepakat banget! Dan emang, kalau dari awal state kita udah bahagia, positif, ceria, riang, less likely deh kita bakal kepancing sama siapapun.
  • Alihkan pandangan.
maksudnya gini, kalau emang kamu udah emosi banget, dan gak tahan liat wajah si-pemicu-marah di hadapan kamu, berhenti deh mandang ke arah dia. Instead, alihkan wajah kamu ke wajah temen se-angkatan yang adem dan senantiasa suportif. Dan pastinyaa, udah bisa ngebaca gelagat kalau kamu siap meledak, dan udah siap-siap untuk nenangin kamu. Pas dia narik tangan kamu sebagai isyarat untuk gak ngelanjutin pertengkaran, please ikuti sarannya yaa..:)
  • Bersyukur!
Say "Thanks, God!" karena kita udah dimasukin ke angkatan se-fantastixx 2006. karena kita punya momen seperti olymphiart yang seru dan bisa ngompakin angkatan (hopefully, inter-angkatan juga sih. Ya gak, Sha?^^). karena kita cukup punya talenta dan semangat untuk nyemarakin Olymphiart either dengan ikut main atau hadir ngasi dukungan..^o^
karena kita punya Dekanat yang percaya banget sama kita. karena kita punya masa depan yang cerah. hahaa.

Siiip, yang pasti, 3-emas-udah melambai-lambai nungguin kita, Teman-teman...

Sabtu, 18 April 2009

Kenapa Olymphiart Diadain SOKA dan Bukan SPU Atau Pendpro?

Ya jelas aja bukan Pendpro. Memangnya isinya Olymphiart lomba membaca cepat Adams atau Guyton, lomba presentasi LI, atau lomba skill lab?

Kalau SPU?
Nah, penjelasan ini, sebetulnya bakal menjawab juga pertanyaan tentang esensi diadainnya Olymphiart, yang udah mulai ditanyain sama beberapa adik 08 yg udah mulai resah karena kaget, "Ternyata kampus nyaris apatis kayak FK bisa jadi rame penuh kompetisi kayak gini juga!", atau malah seorang adik lucu yang habis nonton pertandingan 06 dan 08 lalu langsung ngirim pesen ke saya, "Teh, buat apa sih ada Olymphiart kalau malah jadi ribut antar angkatan?" Lalu, "Kenapa sih, nyolot-nyolotan. Yang muda ada yang cari masalah, gak ngehargain yang atas, eh yang tuanya juga sama, gak bijak, malah nanggepin, panasan...-_-"

Kemudian malamnya, seorang adik lain yang juga merangkap panitia penyelenggara juga ngungkapin keresahannya, "Kok FK jadi kayak gini sih,Teh? Mana ade-kakak yang selama ini kita banggain?"

Mana, ya?
Yaa,nggak kemana-mana. Kalau kata sobat saya yang juga atlet multibakat di angkatan, "Ini sisi lain FK. Tenang aja, semua orang sedang menikmatinya, larut sama suasananya, tapi setelah ini semua bakal balik seperti semula, kok."

Saya percaya. Tapi tetap saya ngerasain kebutuhan untuk menyuarakan alasan pertama kenapa Olymphiart diadain, dan ini sekaligus juga harapannya, bisa mewakili impian dan harapan angkatan 01 yang pertama kali menggagas acaranya, dan SOKA serta Bid.2 Senat dan dengan kerja luar biasa angkatan 07 utk merealisasikannya tahun ini.

Olymphiart, olimpiade olahraga dan seni--dan tambahan-tambahan lain yang mulai muncul tahun ini, digagas masuk ke SOKA, dan bukannya SPU, adalah karena tujuan pertamanya emang untuk menyolidkan kolega--intraangkatan,antarangkatan, dan bukan semata optimalisasi minat-bakat.

Tentu aja momen ini juga seru banget untuk temen2 semua yang memang berminat dan berbakat di cabang2 olahraga, seni, karya tulis, blog, film pendek, dan lain-lainnya, taapii, di atas itu, kebersamaan antar angkatan itu yang jadi tujuan utamanya.

Mana mungkin bisa solid kalau metodenya kompetisi?
Lah, kenapa gak mungkin?
Apa sulit untuk saling tersenyum dan menyapa sebelum bertanding?
Berkenalan dan bertanya kabar setelah bertanding?
Bertepuk tangan pada penampilan di Jatinangor Idol dan VG karena memang grup itu tampil dengan bagus, meskipun bukan berasal dari angkatan kita seperti Terajana 05?^^
Meminta maaf kalau tanpa sengaja men-tackle dengan keras lawan ketika tanding bola sehingga membuat dia terjatuh?

Yang sulit adalah menahan ego kita.
Untuk gak menertawakan ketika ada yang jatuh, misalnya, atau
untuk gak ikut menyoraki ketika ada lawan yang melakukan kesalahan.
Untuk gak sesumbar meski kita tahu kekuatan kita dan kemungkinan kita untuk menang.

Jadi, kita akan terus berkompetisi. Terus berlari. Terus melompat. Terus bernyanyi. Terus menarik. Terus mengaduk. Terus berakting.
Tanpa berhenti,
untuk tersenyum.
Melakukan ini,
dengan cara kita.
Cara FK Unpad.

Jumat, 17 April 2009

MEMILIH PEMILU (u/Medulla Asy Syifaa)

Kemarin ikut milih?

Seru ya: pergi pagi-pagi (atau siang-siang jam 10 kayak Megawati? Atau jam 11 kayak SBY?) bareng keluarga, ngantre bareng ibu-ibu tetangga sambil nyedot Aqua gelas yang disediain panitia KPPS, masuk bilik pas nama dipanggil sambil ngejinjing 4 kertas suara (untuk DPR RI, DPRD Provinsi, DPRD Kota/Kabupaten, DPD RI) segede gaban berbeda-beda warna, nyontreng (atau nyentang entah di sebelah logo parpol atau sebelah nama caleg—yap ga boleh dua-duanya, otherwise bakal dianggap gak sah…haah, peraturan KPU kompleks sangat yah! Kita aja kadang bingung, gimana masyarakat pedalaman??), keluar dengan langkah mantap (tau gak, ada orang yang sampai bertahan dalam bilik sampai 10 menit karena susah nentuin pilihan! ^^ ngapain aja ya?), masukin itu 4 kertas suara ke kotak berbeda, lalu dengan puas nyelupin ujung jari kita ke dalam wadah tinta berwarna ungu pekat (sampai ada teman saya, saking semangatnya, sampai seminggu setelah nyontreng, itu bekas tinta masih keliatan jelas aja! ^^), dan balik ke rumah untuk nyalain TV untuk lihat hasil hitung cepat sementara (terima kasih Mahkamah Konstitusi, karena udah mengizinkan lembaga survey ngadain hitung cepat yang bisa diakses dengan segera J) sambil seru ngebahas hasil yang ada sama keluarga! Wow, what a day!

Udah tau hasilnya kan?

Partai incumbent, Partai Demokrat, meraup suara tertinggi sekitar 20% dan itu membuatnya berhak untuk mengajukan capres dan cawapres sendiri—meski ini less likely bakal mereka lakukan sebab SBY aja udah bilang mereka lebih menghendaki pemerintah yang kuat dengan koalisi. SBY udah pasti maju sebagai Capres, masih ada kesempatan 1x lagi di Pemilu tahun ini. Apalagi, hasil survey LSI, dll juga menunjukkan kalau posisi SBY masih sangat kuat, di beberapa kali survey dengan tingkat akurasi mendekati 99%, SBY selalu nunjukin elektabilitas yang dahsyat meninggalkan pesaing-pesaingnya, bahkan mencapai 45-60%-an di 3x survey. Seru juga jadinya untuk wait and see, siapa ya tokoh yang bakal digadang untuk jadi cawapresnya?? Dan kemudian, dengan popularitas SBY sekuat itu, siapa ya yang masih berani nantangin dia di Pilpres, dan apa strateginya untuk membalikkan anggapan sebagian orang? ^^

Apa Megawati yang meski perolehan suara partainya menurun dari kisaran 18%jadi 14%-an tapi tetap pede jadi competitor SBY dan tetap keukeuh jadi partai oposisi? Sekarang Mega lagi gencar-gencarnya ngajak silaturahmi berbagai parpol tuh. Mulai dari Wiranto dari Hanura, Prabowo dari Gerindra, sampai usaha merealisasikan Golden Triangle bareng Golkar-PPP.

Atau Golkar? Sebelum Pemilu, JK dengan yakinnya memunculkan dirinya sebagai Capres dan melakukan berbagai macam maneuver yang sempat merenggangkan hubungannya dengan SBY—termasuk mendekat ke kubu Megawati dan ikut menggagas koalisi Golden Triangle-- taapii, setelah hasil pemilu keluar dan Golkar harus menerima kenyataan pahit bahwa perolehan suaranya menurun drastic—dari posisi 1 di tahun 2004 dengan 21% lebih jadi kisaran 14% kejar-kejaran dengan PDIP di tempat kedua dan ketiga—sikap politik Golkar berubah sama drastisnya dengan penurunan suaranya.

Golkar balik merapat ke Demokrat. JK gak lagi digadang-gadang sebagai capres, tapi justru diwacanakan untuk maju lagi mendampingi SBY sebagai cawapres. Apa kabar Golden Triangle? Wallahu’alam. Gimana dengan Golden Bridge? Nah, kalau ini adalah koalisi yang dimotori Demokrat dan menyertakan PKS (yang perolehannya naik juga atau cenderung stabil, dari 7.34% di 2004 jadi lebih dari 8% di 2009), PKB (yang sebelum pemilu baru mengalami guncangan setelah terbelah dua jadi PKB kubu Muhaimin dan PKB Gus Dur—yang akhirnya memutuskan untuk golput sementara putri tercintanya, Yenny Wahid, nyebrang ke Gerindra), PPP (yang belakangan ini mulai juga mengalami kekisruhan), dan PAN (tapi perkembangan terakhir, Sutrisno Bachir juga melakukan pertemuan intens dengan Prabowo, jadi kita masih nunggu perkembangan terakhir gimana keputusan mereka).

Memang sih, sekarang ini yang ramai diperbincangkan di TV atau Koran bukan Cuma prediksi koalisi tiap parpol tapi juga kenggakpuasan berbagai pihak terhadap penyelenggaraan pemilu tahun ini. Masalah klasik masih selalu ada: serangan fajar (warga bangun di subuh hari dan mendapati di depan pintu rumahnya udah ada segepok uang dalam amplop bercap logo parpol), janji beasiswa, tiap RT dikasih uang sampai 100 juta supaya milih parpol/caleg itu, dibenerin jalan, dipasangin tiang listrik, sampai black campaign (termasuk tudingan korupsi pada Rama Pratama yang mantan Ketua Senat Mahasiswa UI 1997-1998, dll). Tapi hal terutama yang menyebabkan pemilu tahun ini sampai dicap lebih buruk dari pemilu 1999 dan 2004 adalah terutama karena persoalan DPT yang gaib.

Ryaas Rasyid berujar, “Kisruh DPT tidak alamiah.” Dan kemudian dikomentari Republika, “Mana ada mayat nyontreng!” ngerti, ga? Hehehe. Ya begitulah. Ada banyak banget keanehan di DPT (Daftar Pemilih Tetap) tahun ini, yang ini menyebabkan kemudian angka golput di pemilu 2009 ini mencapai 30-40%! Berartii, bukan Demokrat pemenang sebenarnya pemilu ini, taapii Golput! T_T selain orang-orang yang memang secara sadar memutuskan untuk nggak ikut milih, lebih banyak orang yang sebenernya jadi korban dalam masalah ini. Mereka pengen ikut berpartisipasi sebenernya, apa daya secara anehnya nama mereka nggak terdaftar, dan kalaupun terdaftar, untuk anak rantau ngurus pindah milih ke Jatinangor, susaaaah banget! Dan mungkin kamu, atau teman-teman kamu termasuk diantaranya.

Yang bikin gondok adalah, ada bayi masuk DPT, ada orang meninggal masuk DPT, konyol, kan? -_-

Tapi jangan menyerah, Kawan-kawan! Masih ada kesempatan kedua. Tanggal 25 April-10 Mei nanti, KPU berjanji mau melakukan pemutakhiran data pemilih sementara pemilihan legislative kemarin untuk diolah jadi data pemilih tetap untuk pemilihan presiden. Nah, buat temen-temen yang kemarin belum ikut milih karena nggak masuk DPT, kalian bisa mendaftarkan diri ke KPPS setempat dengan membawa KTP asli. Semangat, ye!

Peran kita sebagai muslim maupun mahasiswa memotivasi kita untuk ikut serta juga dalam pemilihan umum. Kita semua meyakini, kan, Islam itu satu-satunya agama yang diridhai Allah swt, agama yang paling sempurna, mengatur segala macam dimensi kehidupan…Jadi nggak mungkin kalau dimensi sepenting politik—yang mengatur sedemikian besar hajat hidup orang banyak—gak bisa diwarnai juga sama nilai Islam. Dan apakah politik itu terlalu kotor untuk berpadu dengan Islam yang suci dan indah?

Jangan salah kaprah disini. Politik itu hal netral—gimana ia menjadi, tergantung banget sama siapa pelakunya. Nah, praktisnya disini, tergantung politikusnya, apakah ia mau berpolitik dengan benar dan bersih, atau nggak. Juga tergantung pemilihnya—ya kita-kita ini termasuk—apakah kita mau memilih pemimpin yang benar dan bersih, nggak sekedar ngitung kancing, ngikutin Papa atau Mama, liat caleg artisnya, terpesona iklannya, apalagi tampang atau embel-embel imbalan kalau milih…

Banyak hal akan terjadi ke depannya, Kawan-kawan. Satu hal yang pasti, kita akan jadi pelaku utamanya. Tapi sebelum momen itu datang, kita ngerasa perlu untuk berlatih dan berbekal. Termasuk di Pemilu ini, belajar sebanyak-banyaknya, berlatih sebanyak-banyaknya!

Ikut milih, yaa! :)

Kost Mia, 17 April 2009
almira.al@gmail.com

Minggu, 05 April 2009

Lamunan Pertengahan: Seorang 2006 di Tahun Ke 3

-Tangga A3-
Berada di pertengahan; ga pemula banget, tapi juga masih jauh dari akhir,

Saya jadi teringat tentang saya di tahun ke-3 dengan lembar-lembar kasus hematoimunologi. Semuanya sudah terasa biasa: tinggal di Jatinangor, makan makanan Jatinangor, hujan lebat-panas matahari siang-dingin udara Jatinangor, becek-becek banjir dan tukang ojek 3ribu rupiah segimanapun dekat-jauhnya, berangkat 15 menit lebih awal kalau mau menghemat 3ribu untuk pisang ijo depan gerbang—tinggal tambah 1rb, ngantri fotokopi di Copa Copy sambil nyapa Uni dan Difa, presentasi tutorial, ngelewatin 3 hari per siklus kasus, ngeluh-ngomel waktu lab activity, dan segar-gembira saat dalam bis pulang ke rumah di Jumat sore. Udah jadi kebiasaan, udah jadi keseharian.

-Teras A3.1-
Dan kenyataan kalau itu semua udah nggak terlalu berasa istimewa atau ninggalin kesan antusias di hati saya makin membuat saya yakin kalau saya emang bukan lagi pemain baru di kancah kampus kedokteran Jatinangor. Lihat aja 2 anak yang baru lewat tadi—yang satu pake jas lab dengan kode NPM 130110080xxx lari-lari telat skill lab dan satu lagi ngernyit-ngeryit keberatan karena mesti manggul buku Neurology Adams dalam tasnya—dua-duanya menyapa sambil mengangguk, “Assalamualaikum, Teh…”
Nah.
Udah tahun ke-3?! Artinya tahun depan ko.as, bye-bye Jatinangor, dan migrasi ke Bandung?
Kesimpulannya, saya udah hampir 3 tahun kuliah di Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran. Nah, terlepas dari segala euphoria karena tinggal bentar lagi udah jadi S.Ked (amin2), hal itu sebetulnya juga menyisakan pertanyaan2 dalam benak saya.

Saya udah ngapain aja ya, 2 tahun ke belakang?
Apa saya jadi orang yang lebih baik? Dibandingin dengan saya waktu baru lulus dari SMA, apa saya makin bisa diandalkan? Apa saya belajar sesuatu selama kuliah 2 tahun kemarin?

Umur saya udah lebih dari 20 sekarang. Apa saya udah berhasil nemuin diri saya sendiri? Apa saya udah berhasil mendefinisikan diri saya itu siapa, dan alasan kenapa saya diciptakan dan hidup?

Saya ingat kekecewaan yang saya rasakan di awal masuk kuliah setelah melihat pengumuman kelulusan SPMB. Sejujurnya, masih ada sih sedikit rasa menusuk dalam hati sampai sekarang. Taapii, saya ingat konsep blessing in disguise dan bahwa everything happens for a reason dan saya pengen berpositive thinking pada Tuhan. Jadi, apa saya udah bisa—pada akhirnya—mereka-reka maksud Tuhan menempatkan saya menjadi mahasiswa kedokteran di Unpad dan sedikit lebih bersyukur untuk keberadaan saya di sini? (coba deh sekali-sekali pulang lewat FKG. Hampir semuanya sebetulnya punya cita-cita pengen jadi dokter!)

-Plaza-
“Teteh!” seorang lagi dengan pin 2007 di kemejanya melambai sambil berteriak, “Aku mau curhat ya nanti malam di kos-an!”
Jadi mahasiswa tahun ke3 berarti juga jadi semakin banyak orang-orang yang curhat! Yaa, soalnya kalau bukan kita, siapa lagi orang yang bisa mereka asosiasikan dengan kata ‘kakak’ dan ditanya berbagai macam hal? Apalagi di saat seperti sekarang dimana angkatan 05 udah banyak menghilang dari kampus, sibuk sama skripsi dan KKN masing-masing.

Berkaitan dengan mereka, saya juga coba ngerenungin. apa saya udah bisa jadi teladan yang baik untuk mereka? Apa angkatan saya udah bisa jadi contoh yang baik? Tentang integritas diri. Tentang kesolidan persahabatan. Maju sama-sama? Saling menyayangi?

-Lap.Parkir A1-
Dari jauh saya bisa lihat dr.Januarsih berjalan bersama-sama dr.Eri dan dr.Tri. Wah, para dekanat. Ini mungkin hal yang langka untuk di-share, tapi saya beberapa kali berinteraksi sama temen2 mahasiswa dari FK lain dan kadang sambil saling bercerita tentang dekanat kampus masing-masing. Dan tiap kali, saya selalu sampai pada kesimpulan kalau saya bangga dan bersyukur banget punya dekanat seperti mereka.

Memang masih ada sih hal-hal yang ga ideal dan ga sempurna. Tapi Dekanat yang sedemikian menghargai mahasiswa, selalu bisa diajak diskusi, sangat pengen mahasiswanya berkembang—ada dimana lagi? Beneran, sangat langka. Dan ini mengantarkan benak saya pada satu perenungan lain.

Udah hampir 3 tahun saya jadi anak FK Unpad.
Dengan sekian banyak hal yang udah saya dapet selama kuliah, saya udah bisa ngasih apa untuk FK Unpad? Hm. Jangan-jangan saya Cuma numpang kuliah selama ini. Cuma jadi bagian dari statistic—kalau satu angkatan 2006 itu ada 300 orang lebih dan termasuk saya, tapi nggak ngasih apa-apa. Nggak menambahkan nilai apa-apa. Ada atau nggak ada saya nggak ada bedanya.

Hiks, menyedihkan. Mudah-mudahan nggak begitu.

Udah hampir 3 tahun berarti tinggal hampir 1 tahun, ya? Ko.as! (1.5 tahun ko.as kemudian 6 bulan magang dan sumpah dokter! Durasi waktu yang sama dengan lama waktu yang udah saya lewatin kuliah di Jatinangor!)
Apakah saya udah siap ko.as? siap ilmu, siap skill, bisa komunikasi, siap mental?

-Lap.Bola depan GOR Pakuan-
Jadi inget Student Day yang gila panas banget itu. Hwaah, betapa cepat waktu berlalu! Rasanya baru kemarin berbaris dan meneriakkan yel keras-keras saat OSPEK. “2006, Fantastixx!!!”
Kemana hari-hari itu berlalu?

-Gerbang Unpad-
Langit biru, awan putih, matahari yang cerah menghangatkan. Grup tutorial yang seru, tutor baru setiap minggu, skill lab yang exciting. Lab CRP, tutorial CRP sampai lab activity. Kang Miki yang nggak menyulitkan dan Pak Tonton-Pak Iyat-Bu Nuri yang ramah sekali. Dr.Jan ibu peri yang penyayang, dr.Tiaw manajer kemahasiswaan yang terbuka dan berpikiran maju, dr.Tri yang sangat-ingin-sekali kita berpikir dan berkembang! Copa Copy yang helpful dan Uni Copa yang asik. ABP dan Pisang Ijo yang enak. He3. MDE-SOOCA-OSCE.

Tuhan Yang Maha Baik, terima kasih telah menempatkan saya menjadi bagian dari angkatan 2006 Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran.

(Kita sudah melalui banyak hal ya teman-teman.
Ada saat-saat suram, ada saat-saat tenggelam, tapi bahkan saat tergelap adalah saat matahari akan hendak terbit, dan memang hangat sinarnya sudah terasa bahkan sejak jendela pagi kita belum terkuak karena kita masih meringkuk kedinginan di balik selimut tebal sejak hujan lebat tadi malam!
Terima kasih untuk tim akademis atas kerja briliannya, terima kasih untuk tim media yang senantiasa menyemarakkan suasana dan menghangatkan hati, terima kasih untuk tim kekeluargaan atas pompaan semangat yang tidak pernah terkira. Terima kasih untuk semua teman-teman yang tidak pernah berpikir dua kali untuk tersenyum menyapa, melambaikan tangan, dan bertanya apa kabar. Sudah hampir setengah perjalanan menuju sumpah dokter, kawan-kawan. Dan kita masih bersama, itu luar biasa.)

(mengeja cerita kita semua.)

SATU AKU; SEMOGA DALAM LUAPAN MAKNAKU

Dari apa yang kupelajari dari Ilmu Psikiatri sekitar April-Mei tahun lalu, usia 20 adalah titik mula terpenting seseorang dalam memasuki dunia dewasa muda, setelah bertahun-tahun sebelumnya berstatus sebagai remaja. Keseluruhan siklus hidup kita memang terdiri atas fase-fase yang sambung-menyambung tanpa kecuali—selesai fase anak,memasuki fase remaja awal,lalu remaja, lalu dewasa muda, dewasa mapan,dan seterusnya. Ia tidak bisa ditolak atau ditangguhkan—misalnya sesuka apapun kita menjadi seorang remaja, mau tidak mau, begitu usia beralih 20, saat itu kita ya sudah harus menerima status kita yang sudah menjadi seorang dewasa muda. Namun, ada implikasi lanjutannya.

Tidak sekadar status, tiap fase masing-masing memiliki syarat ketercapaian yang harus dipenuhi sebelum melangkah ke fase berikutnya. Masalahnya adalah, usia tidak bisa dihentikan, bukan? Maka konsekuensinya, ketika kita pada kenyataannya belum siap menjadi dewasa muda namun mau tidak mau harus memasuki fase ini, kita memang tetap menjadi dewasa muda, namun akan terdapat masalah-masalah atau gangguan-gangguan perkembangan yang mengiringi kita selama masa ini, yang jika tidak segera diatasi, akan berimplikasi pula pada kehidupan kita di fase selanjutnya.

Maka disanalah saya,setahun lalu, di awal usia 20, mencoba memenuhi persyaratan perubahan fase saya menjadi dewasa muda. Di tahap ini saya harus sudah menemukan identitas diri saya; siapa saya,mengapa saya hidup,apa yang ingin saya lakukan dalam hidup, dan hal semacamnya. Setahun itu saya berjibaku dan merenung,hingga pada akhirnya sampai pada beberapa kesimpulan,yang akan saya tuang dalam tulisan ringkas berikut.

20 tahun ini,saya mencoba mengingati apa yang membuat hati saya tetap terjaga setiap harinya.
Di perjalanan pulang dari Kalideres menuju Tangerang, saya menemukannya. Di sepanjang jalan setiap ada perhentian, tak pernah luput ada pengamen, pengemis, anak jalanan bertebaran. Pedagang keliling memanggul jualan di bahunya, bahkan di dalam bis ramai sekali teriakan-teriakan bersemangat penjaja Koran, gunting kecil, kue-kue dalam kotak, sampai buku tipis tata cara shalat. Ada getir. Kenapa Negara se-terberkahi Indonesia—dengan letak dan sumber dayanya—tak bisa memperoleh kesejahteraan sebagaimana mestinya.

Saya mendengar hati saya berkata, “Cinta pertama saya, adalah mereka. Dimanapun saya mungkin berada, menjadi apapun saya nantinya, tetap masyarakat Indonesia-lah yang selamanya menempati hati saya..” Maka saya putuskan saat itu juga. Pengabdian untuk agama dan Negara saya—yang selama ini memang senantiasa membuat hati saya meluap-luap dan antusiasme begitu membuncah-buncah—yang saya tekadkan untuk menjadi agenda sepanjang hidup saya.

Menuju Indonesia yang madani di masa depan.

Siapa saya? Apa yang bisa saya berikan?
Menjadi mentor bagi adik-adik di SMA 3 Bandung dan FK Unpad dan merasakan sukacita mendalam selama menjalaninya membuat saya menyadari pasti bahwa saya ingin terus berkecimpung dalam dunia pembinaan sumber daya manusia terutama kepemudaan, sepanjang usia saya.

Tegak-roboh sebuah bangsa tergantung pada komponen manusianya. Kualitas kesejahteraan bangsa bahkan kerap diukur dari indeks pembangunan manusia-nya. Manusia-nya lah penentu maju-mundur Negara di masa depan. Maka,saya kemudian bisa memahami kekhawatiran Ibu Iguchi yang saya kunjungi saat menjadi siswa pertukaran AFS ke Jepang zaman SMA dulu, “Bagaimanapun Jepang sudah menjadi Negara makmur saat ini, Ibu betul-betul khawatir akan keberlanjutan negeri ini ke depannya, jika melihat bagaimana anak-anak muda semakin hari semakin kehilangan orientasi..”

“Berikan aku 10 pemuda, maka aku akan mengubah dunia!” Ir.Soekarno pun pernah berkata. Maka jelaslah, pembangunan pemuda adalah suatu hal yang niscaya. Kualitas dasar pemuda Indonesia sama sekali tidak kalah dibandingkan pemuda Negara lain. ini saya rasakan saat bersekolah di Jepang dan mengalami berkompetisi di dunia akademis dengan siswa-siswa Jepang dan beberapa Negara asing lain. tapi mengapa buah yang kita dapat masih belum mencerminkan baiknya bakal biji itu? Tentu itu berarti ada sesuatu yang harus dibenahi dalam prosesnya.

Dalam dunia kedokteran telah dinyatakan bahwa meskipun tiap manusia punya genetic yang membuatnya memiliki kecenderungan untuk menjadi sesuatu secara spesifik, namun jika lingkungan tempat ia berada tidak memadai untuk ekspresi gen itu, sifat yang dibawa takkan terekspresikan. Hal serupa terjadi pula dalam realita yang kita hadapi sehari-hari. Sebaik apapun potensi kepemimpinan seorang pemuda Indonesia misalnya, jika ia tak pernah terpapar lingkungan yang mendukung pengoptimalan potensinya, ia takkan pernah bertumbuh menjadi seorang pemimpin digdaya sampai kapanpun.

Disinilah saya menggantungkan mimpi saya.

Saya bermimpi untuk mendirikan sebuah pusat pembangunan pemuda,yang tersebar di seluruh wilayah nusantara, dan saya cita-citakan bernama Sentra Muda Indonesia (Sendai). Dalam bayangan saya,ia benar-benar akan menjadi pusat, bagi manusia muda. Anggotanya adalah setiap manusia muda usia SMP dan SMA, dengan pendaftaran dibantu oleh tiap sekolah dan kawasan pemukiman. Diantara cakupannya:

1. Sentra Kesehatan Remaja (Adolescent Health Care Center)
Di Sentra ini, akan dilakukan monitoring kondisi fisik manusia muda secara berkala. Kami akan bekerjasama dengan Departemen Pendidikan setempat, sekolah-sekolah, Dinas Kesehatan setempat, Puskesmas-puskemas/dokter keluarga-dokter keluarga di wilayah itu—Sendai harapannya dapat tersebar di setiap provinsi, maka tiap cabang tersebut akan bertanggung jawab atas kualitas kesehatan manusia muda di wilayah itu. Hasil monitoring kesehatan berkala tersebut akan disertakan dalam database tiap manusia muda, disampaikan pada orang tua serta wali kelas/guru konselor di sekolah.

Selain itu, kami juga akan mengadakan penyuluhan kesehatan berkala, mengelola UKS di tiap sekolah, melatih PMR/BSMR di sekolah, serta menghimpun mahasiswa kesehatan yang hendak melakukan penelitian di sekolah.
Sentra ini akan melibatkan sejumlah dokter dan mahasiswa kedokteran dalam pelaksanannya.

Untuk mewujudkannya, saya yang kini duduk di semester 6 Fakultas Kedokteran Jurusan Pendidikan Dokter berencana untuk meneruskan studi spesialisasi Ilmu Penyakit Dalam dan selanjutnya subspesialisasi Kedokteran Remaja, insya Allah.

2. Sentra Belajar dan Konseling
Sentra ini dimaksudkan terutama untuk memastikan remaja dapat merencanakan masa depannya/rencana studinya sekaligus tempat bimbingan dan konsultasi remaja dalam menghadapi kesehariannya—dalam bidang akademis, organisasi, dan lain-lain.

Kami akan menghimpun informasi-informasi beasiswa dari berbagai sumber dan Negara serta deskripsi-deskripsi pilihan profesi yang dapat diambil remaja.
Di ranah ini kami dapat bekerja sama dengan berbagai lembaga bimbingan belajar—Nurul Fikri, SSC, dll—dan berbagai penyedia beasiswa—JF, CCF, dll.

Untuk menguatkan pemahaman saya di dunia ini, hingga kini saya masih terus berperan sebagai mentor dan life coach baik di sekolah maupun di kampus. Selain itu, kiprah saya sebagai Kepala Bidang Pengembangan Potensi Mahasiswa di kampus juga berperan sangat banyak. Akan saya jelaskan mengenai hal ini nanti.

3. Sentra Bahasa dan Literatur
Saya memilih ranah ini berangkat dari minat saya yang begitu besar dalam dunia kepenulisan serta literature. Saya melihat bahwa terlepas dari talenta yang sedemikian kentara dari manusia muda Indonesia dalam bidang ini, nyatanya budaya menulis di kalangan muda masih belum terlalu teroptimalkan. (hal ini saya rasakan pula di kampus saya.)

Di Medicinus, majalah kampus FKUnpad, saya mengambil peran sebagai staf HRD. Harapan saya, setahun ini saya dapat belajar dan berlatih untuk meningkatkan kualitas kepenulisan dan keterampilan menulis generasi muda kampus, dan pada tahap selanjutnya, generasi muda Indonesia.

Bagaimana dengan bahasa?

Indonesia dikaruniai keanekaragaman bahasa bahkan di dalam negeri, serta satu bahasa nasional yang efektif dijadikan pemersatu—dan saya pernah dengar bahkan dinyatakan sebagai salah satu bahasa termudah di dunia. Keanekaragaman bahasa itu memfasilitasi lidah orang Indonesia menjadi sangat lentur, sehingga dari pengalaman, bisa saya lihat bahwa orang Indonesia cenderung lebih mudah untuk menguasai satu bahasa dan mengucapkannya dengan aksen yang baik.

Buku itu jendela dunia; tiap buku pun tertulis dalam bahasa. Akan menjadi satu hal yang luar biasa bila semakin banyak manusia muda yang bisa menguasai beragam bahasa.

Untuk berlatih, saya berniat kuat untuk dapat menguasai beragam bahasa. Saat ini saya dapat berbicara dalam bahasa Inggris dan Jepang, ke depannya, mudah-mudahan dapat diperluas menjadi bahasa Jerman, Cina, Arab, Spanyol, Prancis, dan lain sebagainya.

4. Sentra Seni dan Olahraga
Saya bukan orang yang ahli dalam kedua bidang ini, namun sangat meyakini urgensinya dalam menunjang kesehatan seorang individu. Mudah-mudahan saya bisa menyediakan wahana dan peralatan yang dapat didayagunakan remaja untuk mengembangkan potensinya di bidang-bidang ini.

Kembali pada bidang yang saya tangani di Sema FK, satu terobosan yang saya lakukan tahun ini adalah membuat angket minat-bakat. Artinya, membuat satu daftar berisi pilihan seni (seni lukis, seni tari, seni suara, dll) serta olahraga (sepakbola, voli, basket, dll) yang dapat diisi oleh tiap mahasiswa bergantung seni dan olahraga kesukaan mereka. Ke depannya, akan dilakukan pendataan. Jika Aria, misalnya, menyukai dan/atau berbakat dalam sepakbola,maka Aria akan kami rekomendasikan untuk mengikuti unit sepakbola di kampus. Namun jika Sasa menyukai voli sementara belum ada unit voli di kampus, selanjutnya kami entah akan merekomendasikannya mengikuti unit voli di universitas, wilayah, atau jika jumlah peminat memenuhi syarat,besar kemungkinan pula kami akan menginisiasi pembentukan unit voli di kampus.

5. Sentra Sukarelawan Remaja
Bekerja sama dengan Mer-C, Rumah Zakat Indonesia, Dompet Dhuafa, PKPU, Bulan Sabit Merah Indonesia, Palang Merah Indonesia, kami akan menghimpun dan melatih remaja-remaja yang berminat dalam dunia kesukarelawanan, misalnya skill penanganan bencana, P3K, dll.

Hal ini telah kami coba lakukan di kampus dengan menyelenggarakan training P3K untuk semua mahasiswa kedokteran dan kemudian peserta pelatihan itu mengajarkannya kembali pada siswa-siswa SMA di wilayah Bandung dan Sumedang.

6. Sentra Pembinaan dan Pengembangan Diri
Di sini dapat kami sediakan buku-buku pengembangan diri untuk remaja, kami undang pembicara-pembicara-pembicara yang dapat menyampaikan nasihat, motivasi, serta inspirasinya untuk menggerakkan remaja. Remaja dapat berlatih mind map, dapat mengisi kuis potensi diri, belajar manajemen waktu dengan memanfaatkan model agenda waktu yang disediakan, dst.

Kami akan melakukan kunjungan berkala ke sekolah-sekolah. Semua fasilitas yang disediakan di Sendai dapat dimanfaatkan tanpa biaya. (Darimana saya bisa mendapatkan modal sebesar itu? J Tentu dengan menghimpun berbagai sponsor, bekerjasama dengan Departemen Pemuda dan Olahraga RI, serta hasil tabungan saya praktik sebagai dokter penyakit dalam, insya Allah.)

Tiap pemuda akan memiliki foldernya(soft copy, saya rasa) di arsip kami berisi track recordnya, lembar catatan potensi dan prestasinya, CV, laporan monitoring kondisi fisiknya, dsb). Kami juga akan mengadakan camp pre-SMA sebagai pembekalan bagi alumnus SMP sebelum memasuki masa sekolah dan selanjutnya juga camp pre-kampus sebagai introduksi dan pembekalan pula bagi alumni SMA sebelum memasuki dunia kampus.

Hal-hal saya rencanakan di atas pada umumnya telah coba saya terapkan dalam program saya sebagai Kepala Bidang Pengembangan Potensi Mahasiswa. Program kami ditujukan untuk semua mahasiswa kedokteran Unpad tanpa kecuali; kami mendata mereka semua, membuat folder bagi semua, menyelenggarakan pembinaan dasar dan pembinaan berkelanjutan, dan mencoba seimbang dalam setiap aspek: soft skill, akademis, social politik kemasyarakatan, serta minat dan bakat.

Ada satu hal lagi,sisi lain dari perjalanan akademis saya.
Di kampus saya belajar satu mata kuliah,Public Health. Demikian saya suka mata kuliah ini, terlebih lagi setelah hampir dua tahun diberi amanah sebagai kepala Kajian Strategis Ilmiah di kampus—dan banyak berkecimpung dalam isu-isu kesehatan local maupun nasional, setelah itu juga direkrut menjadi anggota Tim Pertimbangan Presiden BEM Unpad (terutama untuk isu kesehatan) serta Pengurus Harian Nasional di bidang Kajian Strategis ISMKI, mengantarkan saya pada kesimpulan bahwa saya ingin mendalami bidang ini.

Kesehatan dan pendidikan, adalah dua syarat tak tergantikan untuk mewujudkan kesejahteraan masyarakat suatu bangsa. Terutama kesehatan, yang kita lihat realitanya amat menyedihkan: masih banyak sekali penduduk Indonesia yang masih belum bisa memperoleh akses memadai ke pelayanan kesehatan dan termarjinalkan, entah karena alasan biaya maupun lokasi.

Selepas studi sarjana, saya berniat untuk melanjutkan studi Kesehatan Masyarakat dan kemudian bergabung ke Departemen Kesehatan RI, entah di bidang Kajian Kesehatan ataupun SDM Kesehatan. Diantara kesibukan menjadi pegawai negeri di Depkes RI,mengelola Sendai, maupun praktik pribadi, saya bertekad untuk dapat secara rutin mengunjungi wilayah-wilayah se-Indonesia—sampai sepelosok-pelosoknya—minimal 1 bulan 1x untuk memonitor pembangunan kesehatan dan peningkatan kualitas kesehatan di daerah masing-masing, dengan biaya (transportasi) dari tabungan saya sendiri. Hal ini akan sangat mengasyikkan, terutama karena saya sendiri sangat suka bepergian.

Pada akhirnya, hal-hal ini saya muarakan pada Indonesia yang juga akan tumbuh utuh, berkembang pesat di masa depan. Indonesia yang sejahtera secara material, spiritual, budaya, sehingga tanpa kekhawatiran akan makan apa besok, akan peluru yang bisa meluncur kapan saja, tiap manusia Indonesia dapat mengembangkan potensi dirinya, menjadi dirinya sendiri, mewujudkan suatu tatanan masyarakat yang dipenuhi kebaikan dan ketulusan. Masyarakat yang antusias untuk memperbaiki hidupnya dan bergerak merengkuh yang lainnya untuk maju bersama-sama.

Indonesia yang posisinya disegani di dunia dan bisa menyebarkan cahaya kebermanfaatannya pada Negara-negara lain pula di dunia. Amin.

Dan saya sungguh mengharapkan dengan segenap jiwa dan hati saya, bahwa satu hidup saya ini bisa bermakna sesuatu bagi terwujudnya cita-cita itu. Amin.

Rancaekek, di sela Raker BEM Unpad, Sabtu, 4 April 2009, 9:05 PM
Almira Aliyannissa