Kamis, 11 Juni 2009

Ismki untuk Indonesia

Apa yang bisa ISMKI lakukan untuk Indonesia?

Sungguh, tidak mungkin tidak ada.

Ketika kita berbicara tentang pembangunan suatu Negara dan bagaimana mengukur kualitasnya, adalah tidak mungkin untuk kita melepaskan diri dari pembahasan mengenai manusia-manusia yang mendiami Negara tersebut. Kedua hal itu tidak bisa dipisahkan menjadi masing-masing bagian yang berdiri sendiri, sebab, jika bukan untuk menyejahterakan manusia-manusia penduduknya, untuk apa lagi suatu proses pembangunan (yang biasanya berkepanjangan) ditujukan?

Dari satu sisi lain, yang juga mendasari perlunya kita membicarakan lagi dan lagi tentang topic ini, pembangunan itu sendiri takkan mungkin berjalan dengan berhasil jika semata hanya mengandalkan upaya dan kebijakan dari penyelenggara pemerintah saja. Secara menyeluruh, ia mutlak memerlukan kontribusi jerih payah tenaga, pemikiran serta semangat dari seluruh masyarakatnya pula. Tanpa kecuali, untuk semua entitas yang merasa menjadi bagian. Maka kita juga.

Jadi tidak hanya gedung-gedung yang menjulang anggun ke langit yang menjadi indikasi keberhasilan pembangunan, tapi juga seberhasil apakah kualitas kehidupan masyarakat bisa ditingkatkan secara simultan. Untuk itu, kita mengenal istilah Indeks Pembangunan Manusia, dengan pondasi-pondasi terutama: pendidikan dan kesehatan.

Kesehatan! Disanalah ladang primer terutama untuk kita—mahasiswa kedokteran Indonesia—mungkin berperan secara optimal. Tak hanya sekadar untuk memenuhi kewajiban pengabdian masyarakat, lebih lagi, kita-lah mungkin harapan satu-satunya untuk perbaikan kualitas kesehatan Indonesia. Hal ini perlu disadari dan dipahami secara seksama. Mahasiswa kedokteran-lah yang akan menjadi dokter-dokter penyedia layanan medis dan pemelihara kualitas kesehatan orang-per-orang masyarakat di komunitas. Mahasiswa kedokteran-lah yang kelak diharapkan untuk mengisi kursi-kursi lembaga legislative Negara agar mampu merumuskan aturan dan memperjuangkan aspirasi masyarakat Indonesia dalam bidang kesehatan. Mahasiswa kedokteran-lah yang akan mencerdaskan masyarakat dengan tulisannya tentang kesehatan popular, yang akan membimbing lagi mahasiswa-mahasiswa kedokteran baru sebagai tenaga pengajar, yang akan diharapkan mengambil kebijakan-kebijakan strategis dan cerdas serta berpihak pada masyarakat di Departemen Kesehatan atau Dinas Kesehatan.

Begitu luas spectrum pengabdian kita, begitu besar harapan yang digantungkan di pundak kita, begitu banyak yang bisa kita lakukan.

Bahkan sejak saat ini, di ISMKI!

ISMKI adalah satu-satunya organisasi mahasiswa kedokteran yang memiliki legalitas hukum dengan keanggotaan yang tersebar luas di hampir semua institusi pendidikan dokter di Indonesia. Tidak main-main, ISMKI mencakup BEM/Senat Mahasiswa di institusi-institusi tersebut, dimana pada hakikatnya keanggotaan tiap BEM/Senat Mahasiswa melingkupi seluruh mahasiswa kedokteran yang terdaftar disana. Sungguh suatu kekuatan tak terbantahkan, dan menanti untuk dioptimalkan dengan realisasi dan tindakan konkret.

Maka kemudian, adalah merupakan hal-hal yang sangat tidak layak tersandang pada diri organisasi sebesar ISMKI, untuk bersibuk-sibuk pada hal-hal sepele, melulu pada tataran konsep, terkonsentrasi pada rutinitas tanpa memenuhi setiap prosesnya dengan ruh dan spirit, atau bahkan merasa terbatas dan terhambat karena kendala seperti jarak dan waktu. Banyak hal yang memang belum sempurna hingga saat ini, tapi sebagai organisasi pembelajar, selalu ada antusiasme untuk memperbaikinya hari ini dan masa datang.

Diantara hal-hal yang saya rasa bisa dilakukan:

  • Soliditas mahasiswa kedokteran Indonesia.

Melebihi kecemerlangan individu setaraf apapun, selalu ada keunggulan dalam kolektivitas dan kesatuan. Apa yang istimewa dari ego, arogansi atau perasaan superior? Mengapa sulit untuk berlapang dada dan bersantun laku dalam setiap momen yang mungkin ada? Kita telah banyak belajar mengenai hal ini di masa lalu dan perlu banyak bersyukur bahwa keadaan telah menjadi lebih jauh membaik saat ini.

Keharmonisan hubungan antarinstitusi, dan lebih jauh lagi antarmahasiswa kedokteran yang berada di sana, adalah suatu prioritas di atas prioritas. Jika dalam teks sumpah dokter jelas disebutkan bahwa sesama dokter, rekan sejawat adalah ibarat saudara kandung, maka hal ini bisa mulai ditumbuhkan dan dipelihara sejak saat ini. Karena perasaan adalah buah proses berkesinambungan, dan bukan satu perkara satu atau dua hari.

Hal ini secara nyata bisa diwujudkan dengan eagerness untuk saling mengenal dan bersilaturahim satu sama lain, mengoptimalkan kesempatan studi banding dan kunjungan, serta berpartisipasi aktif dalam even-even yang bersifat regional maupun nasional. Juga termasuk, menghadiri netmeet dengan kesungguhan, ikut serta dalam eskalasi gerakan ISMKI, serta dari ISMKI sendiri, menghindari kecenderungan pada institusi-institusi tertentu saja.

  • Pengalaman dan penempaan mahasiswa kedokteran Indonesia.

Baik sebagai pengurus harian nasional maupun pengurus harian wilayah, ISMKI menyediakan media perkembangan yang kondusif untuk individu-individu mahasiswa kedokteran. Lihatlah, ia bisa turut berpengalaman dan terjun langsung baik sebagai staf di bidang pengembangan sumber daya manusia organisasi, pendidikan profesi, kajian strategis, pengabdian masyarakat, dana usaha, media informasi, maupun badan-badan kelengkapan seperti penelitian, jurnalistik, siaga bencana, reproduksi dan AIDS, dan lain-lain.

Yang perlu ditingkatkan ke depannya saya kira adalah kualitas kinerja dan keberadaan bidang-bidang dan badan-badan kelengkapan tersebut di atas, serta kuantitas dan kualitas sumber daya manusia mahasiswa kedokteran yang terlibat di dalamnya. Semakin massif, semakin baik.

  • Penaungan institusi.

Bagaimanapun, ISMKI tak akan mampu betul-betul menjangkau seluruh mahasiswa kedokteran di Indonesia yang jumlahnya bisa mencapai puluhan ribu. Disinilah, letak vital institusi sebagai ujung tombak pencapaian tujuan pergerakan ISMKI. ISMKI berkualitas baik, tanpa institusi yang cukup kuat untuk bisa mentransmisikan kebaikan tersebut ke institusinya, adalah percuma. Takkan terasa efeknya. Pun sama, dan malah lebih menyedihkan lagi, ketika ISMKI tidak bisa memberikan kebermanfaatan konkretnya untuk institusi, sementara institusi-institusi sudah berkembang demikian mapannya dan tak lagi merasakan kebutuhan akan keberadaan ISMKI. ISMKI terancam bubar, dan harapan akan kesatuan mahasiswa kedokteran Indonesia bisa menjadi terbatas sebagai angan kosong semata.

Maka ISMKI perlu berangkat dari institusi.

Bagaimana harapan institusi?

Bagaimana aspirasi institusi?

Apa kebutuhan institusi?

Tanpa kapabilitas untuk menggali, menampung dan merealisasikannya, pergerakan ISMKI terancam hanya akan menjadi pergerakan hampa yang kosong makna dan arti.

  • Sharing dan transfer pengalaman dari pendahulu.

Kita sangat beruntung sebab dalam dunia profesi kedokteran pun, ikatan antardokter adalah salah satu ikatan profesi yang paling solid, bahkan di seantero dunia. Hal inilah yang bisa kita manfaatkan. Dokter-dokter pendahulu telah lebih dulu mengisi berbagai pos pembangunan di masyarakat. Nanti kita akan mengambil estafet, melanjutkan yang baik dan memperbaiki yang kurang baik. Maka menjadi suatu keperluan yang sangat dari kita untuk bisa menggali dan mempelajari pengalaman-pengalaman yang telah dialami oleh pendahulu-pendahulu tersebut.

Hal ini bisa kita wujudkan. Kita bisa mengundang dokter-dokter yang bergerak di Komisi Kesehatan DPR RI, Depkes RI, Dinkes setempat, IDI, maupun ikatan-ikatan profesi/spesialisasi lain seperti POGI, PDKI, PAPDI, Perdossi dan lain-lain.

  • Sinergisasi gerakan dengan aliansi sejenis.

Pada tataran selanjutnya, isu kesehatan yang kita usung ternyata tidak hanya digarap oleh ISMKI saja. Ada mahasiswa kesehatan masyarakat, mahasiswa kedokteran gigi, mahasiswa ilmu keperawatan dan juga mahasiswa ilmu farmasi yang dapat ambil bagian. Bayangkan kekuatan sebesar apa yang dapat terwujud jika keseluruhannya bisa berjalan bersama-sama.

Dan tidak hanya dengan aliansi sejenis dalam bidang kesehatan! Bahkan dengan aliansi mahasiswa hukum, teknik lingkungan atau mungkin kesejahteraan social ilmu politik misalnya, saya kira akan banyak sekali potensi kerjasama yang bisa digali.

Kemudian dengan aliansi umum seperti BEM SI (Seluruh Indonesia). Saya melihat suatu peluang untuk ISMKI—bersama dengan ikatan mahasiswa kesehatan lain, JMKI—dapat bergerak sejalan sebagai ujung tombak pergerakan, sumbangsih pemikiran dan pengabdian dalam bidang kesehatan, diantara bidang-bidang kehidupan lain—politik, hukum, ekonomi, social budaya—yang mungkin digarap oleh ikatan mahasiswa lain.

Tentu saja konsep hanya akan sekadar menjadi konsep tanpa realisasi.

Kekurangan akan selalu ada, dan yang menjadi pembeda kemudian hanyalah optimisme dan kemauan untuk turun tangan mengubah keadaan. Saya juga bagian dari kekurangan, tapi semoga juga bisa menjadi bagian dari pembaharuan.

Semoga kita bisa menjadi bagian dari penyusun konsep strategis, serta pula bagian dari realisasi menuju kemenangan.

Menuju keberhasilan pembangunan Indonesia dalam bidang kesehatan.

Jatinangor, 9 Juni 2009


 


 

Almira FKUP'06

Senin, 04 Mei 2009

Olymphiart: keep it or leave it?

Olymphiart tahun ini udah bukan lagi sekedar event-dua-mingguan yang rutin kita lewati tiap tahun. Dia lebih menyerupai satu drama sitkom atau bahkan miniatur realita kehidupan.

Campuran dari segala macam hal: keriangan, kegembiraan, keseruan, soliditas, merah-biru-kuning-hijau-batik-putih, emosi, amarah, panas, kedutan otot, tangis, sesak dada, teriakan, kekhawatiran, kejengkelan, ketakutan—dua minggu terasa selamanya. Masihkah ada yang tersisa setelah semua berakhir dengan Malam Keakraban dan Penutupan? Semoga yang baik yang tertinggal.

Tapi ada catatan yang membekas di benak saya, dari dokumentasi saya akan selorohan dan komentar Teman-teman.

“Tahun depan gak usah ada lagi Olymphiart!”

“Buat apa ngadain kegiatan yang akhirnya Cuma bikin angkatan rusuh!”

Tentu ini menyedihkan. Dan selama dua pekan kemarin kita kerap mengalami sesak nafas.

Nah, bagaimanakah? Diantara pekatnya trauma, tidak adakah cercah kebaikan yang bisa kita lihat?

Senat mengadakan acara ini dengan maksud sepenuhnya agar semua mahasiswa di FK bisa bersenang-senang, mengambil jeda dari rutinitas, event yang ditunggu-tunggu setiap tahun karena kini semua mahasiswa tanpa kecuali bisa menunjukkan dirinya, mengembangkan potensinya—ini kenapa banyak sekali cabang dibuka di Olymphiart—karena toh kita menyadari tidak semua orang benar-benar berminat-berbakat-dan kemudian bisa ‘menemukan ‘ dirinya di dunia akademis maupun organisasi…

Sampai di sini, saya rasa kita bisa bergembira. Setiap angkatan terlibat secara massif. Tingkat partisipasi yang tinggi. Slogan lo-lagi-lo-lagi yang selama ini jadi sindiran ironis, akhirnya terasa tidak pas untuk disematkan. Lihatlah! Semua orang berperan tanpa kecuali, sosok-sosok yang kadang Cuma kita jumpai sekali seminggu, bahkan kadang dijuluki dengan sadis sebagai terancam-punah, sosok-sosok yang tanpa minat datang ke kampus untuk kemudian langsung pulang lagi setelah bubaran tutorial atau lab (dan pastinya gak akan repot-repot hadir minilecture kecuali untuk latihan basket atau futsal). Semuanya ikut terlibat!

Meski ini sensitive, tapi harus kita akui bahwa soliditas intra-angkatan juga terbangun baik. Melebihi akselerasi soliditas yang bisa terbentuk saat menghadapi krisis-menjelang-SOOCA, bahkan. Dan terlepas dari dampak-dampak lain yang mengiringinya, ini adalah tentu saja hal yang baik.

Nah, ada poin kedua.

Jika pada akhirnya secara tradisi ia dimasukkan sebagai program kerja Seksi Solid Kolega, ini agar selain maksud pengembangan-potensi, Olymphiart juga bisa mencapai tujuan lain yang tidak kalah mulianya: menyolidkan. Kenapa tidak? Seharusnya Olymphiart ini bisa jadi sarana saling kenal-mengenal antar angkatan. “Oh, jadi Kang A itu yang itu, Teh Z itu yang itu…”

Atau sekadar sapaan, “Kamu angkatan 200x ya?”

“Ya, Kak.”

“Lagi system xxx, ya? Wah dulu kelompok tutorial saya di system itu seru banget, lho.” Nah, kenapa obrolan ringan macam ini gak terbentuk?

“Memang gak mungkin,” komentar teman saya, “Selama Olymphiart sistemnya masih kompetisi, tiap orang gak akan repot-repot mau kenal angkatan lain. yang penting angkatannya menang.”

Nah, itulah, misalnya. Berpikir, “Yang penting angkatan menang” adalah satu cela yang bisa menginduksi hal-hal lainnya yang gak diharapkan. Di luar itu, masih banyak cela-cela penginduksi lain yang bisa kita temukan. Dan bukannya menghapus total segala kebaikan yang ada, kita harusnya memikirkan cara agar cela-cela tersebut gak terulang lagi tahun depan.

Misalnya seperti masukan, “Kalau gitu tahun depan jangan kompetisi antar-angkatan! Gimana kalau kompetisi antar tim, yang tiap timnya adalah perpaduan semua angkatan…”

“panitia jangan Cuma dari satu angkatan, deh. kasian yang bertugas jadi panitia. Udah capek-capek nyiapin acara, bawaannya dicurigai ‘mulu kalau bakal mihak dan menguntungkan angkatannya.”

Curiga sih curiga. Banyak yang bilang kecurigaannya berdasar. Tapi terlepas dari itu, “kenapa semua gak diberesin dari pas TM? Kalau memang ada yang mengganjal, kan pas TM dikasih kesempatan untuk ngasih masukan. Dan, kan ada komdis yang bisa jadi tempat mengadu…”

“Atau realistis ajalah, emang susah kali muluk-muluk ngejar soliditas inter-angkatan di kompetisi panas macam gini, dimana semua angkatan pengen menang. Kalau mau, turunin aja standarnya. Jadi, soliditas intraangkatan sebagai target Olymphiart. Toh proker Senat (SOKA) bukan Cuma satu itu! Masih ada Family Week, masih ada Wisuda (A Tribute for 2005), masih ada Pentas Seni (A Tribute for Unpad)—masih banyak jalan menuju soliditas FK Unpad-Satu!”

Yang jelas, kita semua mengambil banyak sekali pelajaran, kan? Itu yang penting. Sehingga tahun depan kita bisa menyongsong Olymphiart dengan sukacita dan kedewasaan yang lebih matang—mempertahankan yang baik, meninggalkan yang buruk. Keep the good sides, and leave the bad sides.

What do you think?

Sabtu, 02 Mei 2009

Slight Review on Indonesian Education Condition


ALOKASI DANA PENDIDIKAN INDONESIA

KONDISI SAAT INI



2006

2007

2008

2009

Saat ini

48.7

53.4

57.2

50.5

Jika 20%

43.6

55.1

68.7

85.2

Sumber: Exercise Bappenas (Sri Mulyani) ditpertais.net

Hambatan menurut J. Kristiadi, Sekjen Depkeu: beban pembayaran cicilan pokok dan bunga utang.

20% di 2009 (Total RAPBN 2009: Rp 1.122,2 triliun)

Landasan: Pasal 31 ayat (4) UUD 1945, negara memprioritaskan anggaran pendidikan dua puluh persen dari anggaran pendapatan dan anggaran pendapatan dan belanja daerah untuk penyelenggaraan pendidikan nasional.

Total AP: 224.4 T

· AP di luar gaji pendidik&pendidikan kedinasanà134.8 T

o AP di semua kementerian dan lembagaà70.5 T

o DAK pendidikanà8.01 T

o DAU pendidikan non-gajià7.3 T

o Dana otonomi khusus untuk pendidikanà1.8 T

o Dana bagi hasil untuk pendidikanà982.9 M

· Gaji pendidik di Depdiknas, Depag, DAUà89.5 T

o Gaji pendidik di Depdiknasà3.05 T

o Gaji pendidik di Depagà3.3 T

o Gaji pendidik di DAUà83.1 T

· AP dikelola Depdiknasà51.53

Alokasi anggaran:

1. Percepatan penuntasan wajib belajar.

2. Peningkatan mutu pendidikan.

3. Perbaikan dan pemenuhan sapras penunjang pendidikan.

Yang perlu diwaspadai:

· Spesifikasi anggaranàyang dikelola Depdiknas hanya 51.53 T?

· 51.53 T itu akan dialokasikan untuk apa saja? Spesifikàprogram terukur konkret!

o Pemenuhan Wajib Belajar gratis.

o Perbaikan fasilitas/sapras pendidikanàthroughout country!

o Evaluasi UN.

o Evaluasi kurikulum dan system belajar SD, SMP, SMA.

· Transparansi dalam Depdiknas.

· Mekanisme turun ke bawah.

Jawa Barat:

· 1.2 T di 2009, diantaranya untuk: pengadaan buku pendidikan dan BOS.

· Sumber: APBD provinsi, APBN, APBD kabupaten/kota.

Info tambahan:

Dana Alokasi Umum (DAU) adalah sejumlah dana yang dialokasikan kepada setiap Daerah Otonom (provinsi/kabupaten/kota) di Indonesia setiap tahunnya sebagai dana pembangunan. DAU merupakan salah satu komponen belanja pada APBN, dan menjadi salah satu komponen pendapatan pada APBD. Tujuan DAU adalah sebagai pemerataan kemampuan keuangan antardaerah untuk mendanai kebutuhan Daerah Otonom dalam rangka pelaksanaan desentralisasi.

Dana Alokasi Umum terdiri dari:

  1. Dana Alokasi Umum untuk Daerah Provinsi
  2. Dana Alokasi Umum untuk Daerah Kabupaten/Kota

Jumlah Dana Alokasi Umum setiap tahun ditentukan berdasarkan Keputusan Presiden. Setiap provinsi/kabupaten/kota menerima DAU dengan besaran yang tidak sama, dan ini diatur secara mendetail dalam Peraturan Pemerintah. Besaran DAU dihitung menggunakan rumus/formulasi statistik yang kompleks, antara lain dengan variabel jumlah penduduk dan luas wilayah.

KOMPARASI NEGARA LAIN

· Korea Selatan tidak memotong anggarannya meski krisis global. Kebanyakan dialokasikan untuk biaya kursus bahasa Inggris gratis. (lintasberita.com)

· Thailand

o National Education Budget (NEB): 21.91% (Wikipedia), tapi by 2006à27%.

o Literacy (2005): Men 96%, Women 92%.

o Gratis sampai SMA, tapi yang wajib hanya 9 tahun.

o Financed by:

§ National budget.

§ Important local funds (di Bangkok, >28.1%)

§ ADB

§ WB

§ OECF

o Free textbooks and learning materials for 15 years.

o Primary levelsà8 core subjects/semester:

1. Thai language.

2. Math.

3. Science

4. Social science

5. Health&PE

6. Arts&Music

7. Technology

8. Foreign Languages

o Age 13 (Matthayom 2):

Elective programsàScience (Wit-Kanit)? Math (Sil-Kamnuan)? Foreign language (Sil-phasa)? Social science (General program)?

· Komparasi: Cina 13%, Indonesia 8.1%, Malaysia 20%, Meksiko 24.3%, Filipina 17%, UK dan Prancis 11%.

· Malaysian National Education Blueprint 2006-2010:

1. National Pre-School curriculum

2. 100 new classes for students with special needs

3. ↑ schools to 90% for primary schools and 70% for secondary schools

4. ↓ class sizes from 31 to 30 students in primary schools and from 32 to 30 in secondary schools

5. Better electricity supply, and public water supply.

6. Racial polarizationàseminars on the constitution of Malaysia, motivational camps to ↑ cultural awareness, food festivals, essay competitions.

7. Mandarin and Tamil language classes on public schools.

MASUKAN

· Buat program spefisik sebagai rencana alokasi AP 2009. (look above)

· Sosialisasikan pada masyarakat setiap perkembangan kebijakan financial Depdiknas.

Senin, 20 April 2009

Hati-Hati Terprovokasi! (Supaya kita tetap keren-utuh-murni ^o^)

Hyah, cape banget kalau ternyata kejadiannya selalu begini.
Dengan itikad baik, demi 3 emas yang didambakan, ketua angkatan dan ketua kontingen udah berupaya banget untuk nentuin dress code tiap hari, menggalang suporter dengan masif ke tiap sesi pertandingan, nyiapin yel-yel berkobar yg penuh semangat, dan semua orang-tanpa kecuali di angkatan juga menyambut suka cita dan coba berkontribusi dengan cara masing-masing. Tapi dengan patfis yang unik, sekarang angkatan ini yang jadi sorotan hampir semua pihak di kampus sebagai angkatan yang ramai bersengketa.

Apakah kita suka bersengketa? Tentu tidak.
Banyak yang bilang ini semua karena ada pihak luar yang menstimulus. Ya, mungkin.
Tapi se-mungkin-mungkinnya, alasan apa yang cukup kuat untuk menjadi legitimasi kita boleh terpancing oleh setiap pancingan?
Ayolah.
Saya tahu kita pantas mendapatkan 3 emas-dambaan itu: dress code setiap hari mulai dari merah yang memenuhi Plaza sampai Batik unik di sepanjang AG. Hal ini keren banget. (Dan bahkan ada adik kelas kita yang terang-terangan menyatakan kagum sama angkatan kita kerena hal ini! "Mupeng, Teh, liat 2006 tiap hari kompak pake dress code!" Dan ini mengingatkan saya pada komentar salah satu temen baik saya di akhir sesi skill lab tadi, "Asik tau ada dress code! Jadi kita gak usah bingung lama2 depan lemari utk mutusin pake baju apa hari ini!" ^o^ Yaah, ini efek samping.) Yel-yel bergelora. Dan selalu masif di tiap pertandingan. Oh my God, serius ini keren banget.
Jadi,pastikan kekerenan kita tetap utuh-murni, Teman.

Meskipun emang, ini tuh bukan hal gampang.
Nahan emosi itu, dengan dalih harga diri angkatan atau harga diri pribadi, seringnya malah lebih susah daripada menangin pertandingannya itu sendiri. Ya, gak sih? Tapi nahan emosi itu penting banget. Soalnya kalau udah emosi, kita seringnya bereaksi dengan ngelakuin hal-hal yang sebenernya bisa ngerugiin diri kita sendiri. Ya itu tadi, kita udah keren-keren matching seangkatan, tapi gara-gara kail dikit, berkuranglah poin kita. (masalahnya adalah, kata temen saya yang selalu jadi saksi hidup kejadian, ujung-ujungnya selalu kita yang dikurangin poinnya. Nah bagian ini yang saya sebut di atas sebagai hal-yang-nyapein-banget-dah)

Naah disini, ada beberapa kiat yang saya coba kumpulin untuk coba diterapin kalau kita udah mulai naik pitam. (Hahaa, emang sih kalau udah marah, mana sempet mikir2 dan nginget2 kiat kayak gini, tapi ya udahlah, namanya juga usaha. Lagian, sebenernya kalau kita peka, selalu ada kok jeda sepersekian detik sebelum kita meledak, yang bisa ngasih kesempatan kita untuk narik nafas sekilas dan memutuskan untuk gak meluapkan kemarahan. Perlu latihan, siih..^^)
  • Fokus sama tujuan dan hal yang lebih besar.
Udah mau marah nih, udah mau teriak kasar, udah mau ngeluarin gestur berantem--tapi inget deh medali emas pertandingan, medali emas suporter, inget gimana bangga kita kalau angkatan kita yang bisa bawa pulang trofi Olymphiart tahun ini, gimana kalau, bahkan dibandingin dengan trofi Olymphiart--yang nyatanya selama setahun kemarin gak pernah bener-bener dibawa sama angkatan 2004 dan terdiam lama di kost-an sobat saya--setelah Olymphiart 2009 ini berakhir, Olymphiart tahun depan--hopefully cerita2 gak enak dari Olymphiart tahun ini gak sampai bikin Dekanat memutuskan untuk mencabut izin pelaksanaan Olymphiart--dan bahkan setelah kita semua ciao dari Jatinangor, dan seterusnya, angkatan 2006 tetap bisa dikenang sebagai angkatan yang sportif, kompetitif tapi tetap bisa dijadiin teladan dalam perilakunya. Biarkan kita dikenang dengan kemenangan--kayak 2001 yang keren--dan bukan dengan pertengkaran. Bisa kok!
  • Optimalin fisiologi tubuh.
Kalau lagi emosi, impuls simpatik meningkat. Padahal untuk bisa chill down, kita butuh vasodilasi. Hahaa. Jadi, sebelum mercon meledak, kalau tadinya berdiri, ayo duduk. Kalau tadinya duduk, tiduran aja dah bentar. Kalau tiduran masih kesel? Minum obat penenang. Becandaa! Cuci muka. Hahaa, tapi pas ngelakuin ini, jamin dah masalah udah beres. Lha wong pertandingan aja udah bubar, dan kalaupun kita masih pengen ngamuk, sasaran ngamuknya juga udah gak ada...
  • Gunakan pereda emosi.
Seriusan ini efektif. Zikir! Yakin aja kalau setiap orang pasti dapet ganjaran masing-masing yang adil. (Bahasan yang serius, nih) Kalaupun emang ada orang yang kita pandang ngelakuin hal gak pantes, gak etis, kadang-kadang gak perlu selalu kita yang ngasi dia pelajaran. Apalagi kalau ternyata itu malah berakibat more harms. :) Biarkan aja Tuhan yang membalas mereka...:)
  • Tanamkan pikiran positif.
Positif disini saya spesifikkan sebagai happy mental state! Saya inget banget pernyataan mantan ketua senat kita di plaza tadi siang, bagus banget, "Olymphiart di-desain diadain untuk jadi ajang semua mahasiswa bergembira, setelah biasanya 'terkungkung' oleh rutinitas dan beban akademis (gini gak sih bahasanya kang?hahaa,jangan-jangan saya lebay). Jadi jangan sampai kita lewatin momen sekali setahun yang precious ini malah dengan ketegangan dan marah-marah!"
Sepakat banget! Dan emang, kalau dari awal state kita udah bahagia, positif, ceria, riang, less likely deh kita bakal kepancing sama siapapun.
  • Alihkan pandangan.
maksudnya gini, kalau emang kamu udah emosi banget, dan gak tahan liat wajah si-pemicu-marah di hadapan kamu, berhenti deh mandang ke arah dia. Instead, alihkan wajah kamu ke wajah temen se-angkatan yang adem dan senantiasa suportif. Dan pastinyaa, udah bisa ngebaca gelagat kalau kamu siap meledak, dan udah siap-siap untuk nenangin kamu. Pas dia narik tangan kamu sebagai isyarat untuk gak ngelanjutin pertengkaran, please ikuti sarannya yaa..:)
  • Bersyukur!
Say "Thanks, God!" karena kita udah dimasukin ke angkatan se-fantastixx 2006. karena kita punya momen seperti olymphiart yang seru dan bisa ngompakin angkatan (hopefully, inter-angkatan juga sih. Ya gak, Sha?^^). karena kita cukup punya talenta dan semangat untuk nyemarakin Olymphiart either dengan ikut main atau hadir ngasi dukungan..^o^
karena kita punya Dekanat yang percaya banget sama kita. karena kita punya masa depan yang cerah. hahaa.

Siiip, yang pasti, 3-emas-udah melambai-lambai nungguin kita, Teman-teman...

Sabtu, 18 April 2009

Kenapa Olymphiart Diadain SOKA dan Bukan SPU Atau Pendpro?

Ya jelas aja bukan Pendpro. Memangnya isinya Olymphiart lomba membaca cepat Adams atau Guyton, lomba presentasi LI, atau lomba skill lab?

Kalau SPU?
Nah, penjelasan ini, sebetulnya bakal menjawab juga pertanyaan tentang esensi diadainnya Olymphiart, yang udah mulai ditanyain sama beberapa adik 08 yg udah mulai resah karena kaget, "Ternyata kampus nyaris apatis kayak FK bisa jadi rame penuh kompetisi kayak gini juga!", atau malah seorang adik lucu yang habis nonton pertandingan 06 dan 08 lalu langsung ngirim pesen ke saya, "Teh, buat apa sih ada Olymphiart kalau malah jadi ribut antar angkatan?" Lalu, "Kenapa sih, nyolot-nyolotan. Yang muda ada yang cari masalah, gak ngehargain yang atas, eh yang tuanya juga sama, gak bijak, malah nanggepin, panasan...-_-"

Kemudian malamnya, seorang adik lain yang juga merangkap panitia penyelenggara juga ngungkapin keresahannya, "Kok FK jadi kayak gini sih,Teh? Mana ade-kakak yang selama ini kita banggain?"

Mana, ya?
Yaa,nggak kemana-mana. Kalau kata sobat saya yang juga atlet multibakat di angkatan, "Ini sisi lain FK. Tenang aja, semua orang sedang menikmatinya, larut sama suasananya, tapi setelah ini semua bakal balik seperti semula, kok."

Saya percaya. Tapi tetap saya ngerasain kebutuhan untuk menyuarakan alasan pertama kenapa Olymphiart diadain, dan ini sekaligus juga harapannya, bisa mewakili impian dan harapan angkatan 01 yang pertama kali menggagas acaranya, dan SOKA serta Bid.2 Senat dan dengan kerja luar biasa angkatan 07 utk merealisasikannya tahun ini.

Olymphiart, olimpiade olahraga dan seni--dan tambahan-tambahan lain yang mulai muncul tahun ini, digagas masuk ke SOKA, dan bukannya SPU, adalah karena tujuan pertamanya emang untuk menyolidkan kolega--intraangkatan,antarangkatan, dan bukan semata optimalisasi minat-bakat.

Tentu aja momen ini juga seru banget untuk temen2 semua yang memang berminat dan berbakat di cabang2 olahraga, seni, karya tulis, blog, film pendek, dan lain-lainnya, taapii, di atas itu, kebersamaan antar angkatan itu yang jadi tujuan utamanya.

Mana mungkin bisa solid kalau metodenya kompetisi?
Lah, kenapa gak mungkin?
Apa sulit untuk saling tersenyum dan menyapa sebelum bertanding?
Berkenalan dan bertanya kabar setelah bertanding?
Bertepuk tangan pada penampilan di Jatinangor Idol dan VG karena memang grup itu tampil dengan bagus, meskipun bukan berasal dari angkatan kita seperti Terajana 05?^^
Meminta maaf kalau tanpa sengaja men-tackle dengan keras lawan ketika tanding bola sehingga membuat dia terjatuh?

Yang sulit adalah menahan ego kita.
Untuk gak menertawakan ketika ada yang jatuh, misalnya, atau
untuk gak ikut menyoraki ketika ada lawan yang melakukan kesalahan.
Untuk gak sesumbar meski kita tahu kekuatan kita dan kemungkinan kita untuk menang.

Jadi, kita akan terus berkompetisi. Terus berlari. Terus melompat. Terus bernyanyi. Terus menarik. Terus mengaduk. Terus berakting.
Tanpa berhenti,
untuk tersenyum.
Melakukan ini,
dengan cara kita.
Cara FK Unpad.

Jumat, 17 April 2009

MEMILIH PEMILU (u/Medulla Asy Syifaa)

Kemarin ikut milih?

Seru ya: pergi pagi-pagi (atau siang-siang jam 10 kayak Megawati? Atau jam 11 kayak SBY?) bareng keluarga, ngantre bareng ibu-ibu tetangga sambil nyedot Aqua gelas yang disediain panitia KPPS, masuk bilik pas nama dipanggil sambil ngejinjing 4 kertas suara (untuk DPR RI, DPRD Provinsi, DPRD Kota/Kabupaten, DPD RI) segede gaban berbeda-beda warna, nyontreng (atau nyentang entah di sebelah logo parpol atau sebelah nama caleg—yap ga boleh dua-duanya, otherwise bakal dianggap gak sah…haah, peraturan KPU kompleks sangat yah! Kita aja kadang bingung, gimana masyarakat pedalaman??), keluar dengan langkah mantap (tau gak, ada orang yang sampai bertahan dalam bilik sampai 10 menit karena susah nentuin pilihan! ^^ ngapain aja ya?), masukin itu 4 kertas suara ke kotak berbeda, lalu dengan puas nyelupin ujung jari kita ke dalam wadah tinta berwarna ungu pekat (sampai ada teman saya, saking semangatnya, sampai seminggu setelah nyontreng, itu bekas tinta masih keliatan jelas aja! ^^), dan balik ke rumah untuk nyalain TV untuk lihat hasil hitung cepat sementara (terima kasih Mahkamah Konstitusi, karena udah mengizinkan lembaga survey ngadain hitung cepat yang bisa diakses dengan segera J) sambil seru ngebahas hasil yang ada sama keluarga! Wow, what a day!

Udah tau hasilnya kan?

Partai incumbent, Partai Demokrat, meraup suara tertinggi sekitar 20% dan itu membuatnya berhak untuk mengajukan capres dan cawapres sendiri—meski ini less likely bakal mereka lakukan sebab SBY aja udah bilang mereka lebih menghendaki pemerintah yang kuat dengan koalisi. SBY udah pasti maju sebagai Capres, masih ada kesempatan 1x lagi di Pemilu tahun ini. Apalagi, hasil survey LSI, dll juga menunjukkan kalau posisi SBY masih sangat kuat, di beberapa kali survey dengan tingkat akurasi mendekati 99%, SBY selalu nunjukin elektabilitas yang dahsyat meninggalkan pesaing-pesaingnya, bahkan mencapai 45-60%-an di 3x survey. Seru juga jadinya untuk wait and see, siapa ya tokoh yang bakal digadang untuk jadi cawapresnya?? Dan kemudian, dengan popularitas SBY sekuat itu, siapa ya yang masih berani nantangin dia di Pilpres, dan apa strateginya untuk membalikkan anggapan sebagian orang? ^^

Apa Megawati yang meski perolehan suara partainya menurun dari kisaran 18%jadi 14%-an tapi tetap pede jadi competitor SBY dan tetap keukeuh jadi partai oposisi? Sekarang Mega lagi gencar-gencarnya ngajak silaturahmi berbagai parpol tuh. Mulai dari Wiranto dari Hanura, Prabowo dari Gerindra, sampai usaha merealisasikan Golden Triangle bareng Golkar-PPP.

Atau Golkar? Sebelum Pemilu, JK dengan yakinnya memunculkan dirinya sebagai Capres dan melakukan berbagai macam maneuver yang sempat merenggangkan hubungannya dengan SBY—termasuk mendekat ke kubu Megawati dan ikut menggagas koalisi Golden Triangle-- taapii, setelah hasil pemilu keluar dan Golkar harus menerima kenyataan pahit bahwa perolehan suaranya menurun drastic—dari posisi 1 di tahun 2004 dengan 21% lebih jadi kisaran 14% kejar-kejaran dengan PDIP di tempat kedua dan ketiga—sikap politik Golkar berubah sama drastisnya dengan penurunan suaranya.

Golkar balik merapat ke Demokrat. JK gak lagi digadang-gadang sebagai capres, tapi justru diwacanakan untuk maju lagi mendampingi SBY sebagai cawapres. Apa kabar Golden Triangle? Wallahu’alam. Gimana dengan Golden Bridge? Nah, kalau ini adalah koalisi yang dimotori Demokrat dan menyertakan PKS (yang perolehannya naik juga atau cenderung stabil, dari 7.34% di 2004 jadi lebih dari 8% di 2009), PKB (yang sebelum pemilu baru mengalami guncangan setelah terbelah dua jadi PKB kubu Muhaimin dan PKB Gus Dur—yang akhirnya memutuskan untuk golput sementara putri tercintanya, Yenny Wahid, nyebrang ke Gerindra), PPP (yang belakangan ini mulai juga mengalami kekisruhan), dan PAN (tapi perkembangan terakhir, Sutrisno Bachir juga melakukan pertemuan intens dengan Prabowo, jadi kita masih nunggu perkembangan terakhir gimana keputusan mereka).

Memang sih, sekarang ini yang ramai diperbincangkan di TV atau Koran bukan Cuma prediksi koalisi tiap parpol tapi juga kenggakpuasan berbagai pihak terhadap penyelenggaraan pemilu tahun ini. Masalah klasik masih selalu ada: serangan fajar (warga bangun di subuh hari dan mendapati di depan pintu rumahnya udah ada segepok uang dalam amplop bercap logo parpol), janji beasiswa, tiap RT dikasih uang sampai 100 juta supaya milih parpol/caleg itu, dibenerin jalan, dipasangin tiang listrik, sampai black campaign (termasuk tudingan korupsi pada Rama Pratama yang mantan Ketua Senat Mahasiswa UI 1997-1998, dll). Tapi hal terutama yang menyebabkan pemilu tahun ini sampai dicap lebih buruk dari pemilu 1999 dan 2004 adalah terutama karena persoalan DPT yang gaib.

Ryaas Rasyid berujar, “Kisruh DPT tidak alamiah.” Dan kemudian dikomentari Republika, “Mana ada mayat nyontreng!” ngerti, ga? Hehehe. Ya begitulah. Ada banyak banget keanehan di DPT (Daftar Pemilih Tetap) tahun ini, yang ini menyebabkan kemudian angka golput di pemilu 2009 ini mencapai 30-40%! Berartii, bukan Demokrat pemenang sebenarnya pemilu ini, taapii Golput! T_T selain orang-orang yang memang secara sadar memutuskan untuk nggak ikut milih, lebih banyak orang yang sebenernya jadi korban dalam masalah ini. Mereka pengen ikut berpartisipasi sebenernya, apa daya secara anehnya nama mereka nggak terdaftar, dan kalaupun terdaftar, untuk anak rantau ngurus pindah milih ke Jatinangor, susaaaah banget! Dan mungkin kamu, atau teman-teman kamu termasuk diantaranya.

Yang bikin gondok adalah, ada bayi masuk DPT, ada orang meninggal masuk DPT, konyol, kan? -_-

Tapi jangan menyerah, Kawan-kawan! Masih ada kesempatan kedua. Tanggal 25 April-10 Mei nanti, KPU berjanji mau melakukan pemutakhiran data pemilih sementara pemilihan legislative kemarin untuk diolah jadi data pemilih tetap untuk pemilihan presiden. Nah, buat temen-temen yang kemarin belum ikut milih karena nggak masuk DPT, kalian bisa mendaftarkan diri ke KPPS setempat dengan membawa KTP asli. Semangat, ye!

Peran kita sebagai muslim maupun mahasiswa memotivasi kita untuk ikut serta juga dalam pemilihan umum. Kita semua meyakini, kan, Islam itu satu-satunya agama yang diridhai Allah swt, agama yang paling sempurna, mengatur segala macam dimensi kehidupan…Jadi nggak mungkin kalau dimensi sepenting politik—yang mengatur sedemikian besar hajat hidup orang banyak—gak bisa diwarnai juga sama nilai Islam. Dan apakah politik itu terlalu kotor untuk berpadu dengan Islam yang suci dan indah?

Jangan salah kaprah disini. Politik itu hal netral—gimana ia menjadi, tergantung banget sama siapa pelakunya. Nah, praktisnya disini, tergantung politikusnya, apakah ia mau berpolitik dengan benar dan bersih, atau nggak. Juga tergantung pemilihnya—ya kita-kita ini termasuk—apakah kita mau memilih pemimpin yang benar dan bersih, nggak sekedar ngitung kancing, ngikutin Papa atau Mama, liat caleg artisnya, terpesona iklannya, apalagi tampang atau embel-embel imbalan kalau milih…

Banyak hal akan terjadi ke depannya, Kawan-kawan. Satu hal yang pasti, kita akan jadi pelaku utamanya. Tapi sebelum momen itu datang, kita ngerasa perlu untuk berlatih dan berbekal. Termasuk di Pemilu ini, belajar sebanyak-banyaknya, berlatih sebanyak-banyaknya!

Ikut milih, yaa! :)

Kost Mia, 17 April 2009
almira.al@gmail.com

Minggu, 05 April 2009

Lamunan Pertengahan: Seorang 2006 di Tahun Ke 3

-Tangga A3-
Berada di pertengahan; ga pemula banget, tapi juga masih jauh dari akhir,

Saya jadi teringat tentang saya di tahun ke-3 dengan lembar-lembar kasus hematoimunologi. Semuanya sudah terasa biasa: tinggal di Jatinangor, makan makanan Jatinangor, hujan lebat-panas matahari siang-dingin udara Jatinangor, becek-becek banjir dan tukang ojek 3ribu rupiah segimanapun dekat-jauhnya, berangkat 15 menit lebih awal kalau mau menghemat 3ribu untuk pisang ijo depan gerbang—tinggal tambah 1rb, ngantri fotokopi di Copa Copy sambil nyapa Uni dan Difa, presentasi tutorial, ngelewatin 3 hari per siklus kasus, ngeluh-ngomel waktu lab activity, dan segar-gembira saat dalam bis pulang ke rumah di Jumat sore. Udah jadi kebiasaan, udah jadi keseharian.

-Teras A3.1-
Dan kenyataan kalau itu semua udah nggak terlalu berasa istimewa atau ninggalin kesan antusias di hati saya makin membuat saya yakin kalau saya emang bukan lagi pemain baru di kancah kampus kedokteran Jatinangor. Lihat aja 2 anak yang baru lewat tadi—yang satu pake jas lab dengan kode NPM 130110080xxx lari-lari telat skill lab dan satu lagi ngernyit-ngeryit keberatan karena mesti manggul buku Neurology Adams dalam tasnya—dua-duanya menyapa sambil mengangguk, “Assalamualaikum, Teh…”
Nah.
Udah tahun ke-3?! Artinya tahun depan ko.as, bye-bye Jatinangor, dan migrasi ke Bandung?
Kesimpulannya, saya udah hampir 3 tahun kuliah di Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran. Nah, terlepas dari segala euphoria karena tinggal bentar lagi udah jadi S.Ked (amin2), hal itu sebetulnya juga menyisakan pertanyaan2 dalam benak saya.

Saya udah ngapain aja ya, 2 tahun ke belakang?
Apa saya jadi orang yang lebih baik? Dibandingin dengan saya waktu baru lulus dari SMA, apa saya makin bisa diandalkan? Apa saya belajar sesuatu selama kuliah 2 tahun kemarin?

Umur saya udah lebih dari 20 sekarang. Apa saya udah berhasil nemuin diri saya sendiri? Apa saya udah berhasil mendefinisikan diri saya itu siapa, dan alasan kenapa saya diciptakan dan hidup?

Saya ingat kekecewaan yang saya rasakan di awal masuk kuliah setelah melihat pengumuman kelulusan SPMB. Sejujurnya, masih ada sih sedikit rasa menusuk dalam hati sampai sekarang. Taapii, saya ingat konsep blessing in disguise dan bahwa everything happens for a reason dan saya pengen berpositive thinking pada Tuhan. Jadi, apa saya udah bisa—pada akhirnya—mereka-reka maksud Tuhan menempatkan saya menjadi mahasiswa kedokteran di Unpad dan sedikit lebih bersyukur untuk keberadaan saya di sini? (coba deh sekali-sekali pulang lewat FKG. Hampir semuanya sebetulnya punya cita-cita pengen jadi dokter!)

-Plaza-
“Teteh!” seorang lagi dengan pin 2007 di kemejanya melambai sambil berteriak, “Aku mau curhat ya nanti malam di kos-an!”
Jadi mahasiswa tahun ke3 berarti juga jadi semakin banyak orang-orang yang curhat! Yaa, soalnya kalau bukan kita, siapa lagi orang yang bisa mereka asosiasikan dengan kata ‘kakak’ dan ditanya berbagai macam hal? Apalagi di saat seperti sekarang dimana angkatan 05 udah banyak menghilang dari kampus, sibuk sama skripsi dan KKN masing-masing.

Berkaitan dengan mereka, saya juga coba ngerenungin. apa saya udah bisa jadi teladan yang baik untuk mereka? Apa angkatan saya udah bisa jadi contoh yang baik? Tentang integritas diri. Tentang kesolidan persahabatan. Maju sama-sama? Saling menyayangi?

-Lap.Parkir A1-
Dari jauh saya bisa lihat dr.Januarsih berjalan bersama-sama dr.Eri dan dr.Tri. Wah, para dekanat. Ini mungkin hal yang langka untuk di-share, tapi saya beberapa kali berinteraksi sama temen2 mahasiswa dari FK lain dan kadang sambil saling bercerita tentang dekanat kampus masing-masing. Dan tiap kali, saya selalu sampai pada kesimpulan kalau saya bangga dan bersyukur banget punya dekanat seperti mereka.

Memang masih ada sih hal-hal yang ga ideal dan ga sempurna. Tapi Dekanat yang sedemikian menghargai mahasiswa, selalu bisa diajak diskusi, sangat pengen mahasiswanya berkembang—ada dimana lagi? Beneran, sangat langka. Dan ini mengantarkan benak saya pada satu perenungan lain.

Udah hampir 3 tahun saya jadi anak FK Unpad.
Dengan sekian banyak hal yang udah saya dapet selama kuliah, saya udah bisa ngasih apa untuk FK Unpad? Hm. Jangan-jangan saya Cuma numpang kuliah selama ini. Cuma jadi bagian dari statistic—kalau satu angkatan 2006 itu ada 300 orang lebih dan termasuk saya, tapi nggak ngasih apa-apa. Nggak menambahkan nilai apa-apa. Ada atau nggak ada saya nggak ada bedanya.

Hiks, menyedihkan. Mudah-mudahan nggak begitu.

Udah hampir 3 tahun berarti tinggal hampir 1 tahun, ya? Ko.as! (1.5 tahun ko.as kemudian 6 bulan magang dan sumpah dokter! Durasi waktu yang sama dengan lama waktu yang udah saya lewatin kuliah di Jatinangor!)
Apakah saya udah siap ko.as? siap ilmu, siap skill, bisa komunikasi, siap mental?

-Lap.Bola depan GOR Pakuan-
Jadi inget Student Day yang gila panas banget itu. Hwaah, betapa cepat waktu berlalu! Rasanya baru kemarin berbaris dan meneriakkan yel keras-keras saat OSPEK. “2006, Fantastixx!!!”
Kemana hari-hari itu berlalu?

-Gerbang Unpad-
Langit biru, awan putih, matahari yang cerah menghangatkan. Grup tutorial yang seru, tutor baru setiap minggu, skill lab yang exciting. Lab CRP, tutorial CRP sampai lab activity. Kang Miki yang nggak menyulitkan dan Pak Tonton-Pak Iyat-Bu Nuri yang ramah sekali. Dr.Jan ibu peri yang penyayang, dr.Tiaw manajer kemahasiswaan yang terbuka dan berpikiran maju, dr.Tri yang sangat-ingin-sekali kita berpikir dan berkembang! Copa Copy yang helpful dan Uni Copa yang asik. ABP dan Pisang Ijo yang enak. He3. MDE-SOOCA-OSCE.

Tuhan Yang Maha Baik, terima kasih telah menempatkan saya menjadi bagian dari angkatan 2006 Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran.

(Kita sudah melalui banyak hal ya teman-teman.
Ada saat-saat suram, ada saat-saat tenggelam, tapi bahkan saat tergelap adalah saat matahari akan hendak terbit, dan memang hangat sinarnya sudah terasa bahkan sejak jendela pagi kita belum terkuak karena kita masih meringkuk kedinginan di balik selimut tebal sejak hujan lebat tadi malam!
Terima kasih untuk tim akademis atas kerja briliannya, terima kasih untuk tim media yang senantiasa menyemarakkan suasana dan menghangatkan hati, terima kasih untuk tim kekeluargaan atas pompaan semangat yang tidak pernah terkira. Terima kasih untuk semua teman-teman yang tidak pernah berpikir dua kali untuk tersenyum menyapa, melambaikan tangan, dan bertanya apa kabar. Sudah hampir setengah perjalanan menuju sumpah dokter, kawan-kawan. Dan kita masih bersama, itu luar biasa.)

(mengeja cerita kita semua.)