Apa yang bisa ISMKI lakukan untuk Indonesia?
Sungguh, tidak mungkin tidak ada.
Ketika kita berbicara tentang pembangunan suatu Negara dan bagaimana mengukur kualitasnya, adalah tidak mungkin untuk kita melepaskan diri dari pembahasan mengenai manusia-manusia yang mendiami Negara tersebut. Kedua hal itu tidak bisa dipisahkan menjadi masing-masing bagian yang berdiri sendiri, sebab, jika bukan untuk menyejahterakan manusia-manusia penduduknya, untuk apa lagi suatu proses pembangunan (yang biasanya berkepanjangan) ditujukan?
Dari satu sisi lain, yang juga mendasari perlunya kita membicarakan lagi dan lagi tentang topic ini, pembangunan itu sendiri takkan mungkin berjalan dengan berhasil jika semata hanya mengandalkan upaya dan kebijakan dari penyelenggara pemerintah saja. Secara menyeluruh, ia mutlak memerlukan kontribusi jerih payah tenaga, pemikiran serta semangat dari seluruh masyarakatnya pula. Tanpa kecuali, untuk semua entitas yang merasa menjadi bagian. Maka kita juga.
Jadi tidak hanya gedung-gedung yang menjulang anggun ke langit yang menjadi indikasi keberhasilan pembangunan, tapi juga seberhasil apakah kualitas kehidupan masyarakat bisa ditingkatkan secara simultan. Untuk itu, kita mengenal istilah Indeks Pembangunan Manusia, dengan pondasi-pondasi terutama: pendidikan dan kesehatan.
Kesehatan! Disanalah ladang primer terutama untuk kita—mahasiswa kedokteran Indonesia—mungkin berperan secara optimal. Tak hanya sekadar untuk memenuhi kewajiban pengabdian masyarakat, lebih lagi, kita-lah mungkin harapan satu-satunya untuk perbaikan kualitas kesehatan Indonesia. Hal ini perlu disadari dan dipahami secara seksama. Mahasiswa kedokteran-lah yang akan menjadi dokter-dokter penyedia layanan medis dan pemelihara kualitas kesehatan orang-per-orang masyarakat di komunitas. Mahasiswa kedokteran-lah yang kelak diharapkan untuk mengisi kursi-kursi lembaga legislative Negara agar mampu merumuskan aturan dan memperjuangkan aspirasi masyarakat Indonesia dalam bidang kesehatan. Mahasiswa kedokteran-lah yang akan mencerdaskan masyarakat dengan tulisannya tentang kesehatan popular, yang akan membimbing lagi mahasiswa-mahasiswa kedokteran baru sebagai tenaga pengajar, yang akan diharapkan mengambil kebijakan-kebijakan strategis dan cerdas serta berpihak pada masyarakat di Departemen Kesehatan atau Dinas Kesehatan.
Begitu luas spectrum pengabdian kita, begitu besar harapan yang digantungkan di pundak kita, begitu banyak yang bisa kita lakukan.
Bahkan sejak saat ini, di ISMKI!
ISMKI adalah satu-satunya organisasi mahasiswa kedokteran yang memiliki legalitas hukum dengan keanggotaan yang tersebar luas di hampir semua institusi pendidikan dokter di Indonesia. Tidak main-main, ISMKI mencakup BEM/Senat Mahasiswa di institusi-institusi tersebut, dimana pada hakikatnya keanggotaan tiap BEM/Senat Mahasiswa melingkupi seluruh mahasiswa kedokteran yang terdaftar disana. Sungguh suatu kekuatan tak terbantahkan, dan menanti untuk dioptimalkan dengan realisasi dan tindakan konkret.
Maka kemudian, adalah merupakan hal-hal yang sangat tidak layak tersandang pada diri organisasi sebesar ISMKI, untuk bersibuk-sibuk pada hal-hal sepele, melulu pada tataran konsep, terkonsentrasi pada rutinitas tanpa memenuhi setiap prosesnya dengan ruh dan spirit, atau bahkan merasa terbatas dan terhambat karena kendala seperti jarak dan waktu. Banyak hal yang memang belum sempurna hingga saat ini, tapi sebagai organisasi pembelajar, selalu ada antusiasme untuk memperbaikinya hari ini dan masa datang.
Diantara hal-hal yang saya rasa bisa dilakukan:
- Soliditas mahasiswa kedokteran Indonesia.
Melebihi kecemerlangan individu setaraf apapun, selalu ada keunggulan dalam kolektivitas dan kesatuan. Apa yang istimewa dari ego, arogansi atau perasaan superior? Mengapa sulit untuk berlapang dada dan bersantun laku dalam setiap momen yang mungkin ada? Kita telah banyak belajar mengenai hal ini di masa lalu dan perlu banyak bersyukur bahwa keadaan telah menjadi lebih jauh membaik saat ini.
Keharmonisan hubungan antarinstitusi, dan lebih jauh lagi antarmahasiswa kedokteran yang berada di sana, adalah suatu prioritas di atas prioritas. Jika dalam teks sumpah dokter jelas disebutkan bahwa sesama dokter, rekan sejawat adalah ibarat saudara kandung, maka hal ini bisa mulai ditumbuhkan dan dipelihara sejak saat ini. Karena perasaan adalah buah proses berkesinambungan, dan bukan satu perkara satu atau dua hari.
Hal ini secara nyata bisa diwujudkan dengan eagerness untuk saling mengenal dan bersilaturahim satu sama lain, mengoptimalkan kesempatan studi banding dan kunjungan, serta berpartisipasi aktif dalam even-even yang bersifat regional maupun nasional. Juga termasuk, menghadiri netmeet dengan kesungguhan, ikut serta dalam eskalasi gerakan ISMKI, serta dari ISMKI sendiri, menghindari kecenderungan pada institusi-institusi tertentu saja.
- Pengalaman dan penempaan mahasiswa kedokteran Indonesia.
Baik sebagai pengurus harian nasional maupun pengurus harian wilayah, ISMKI menyediakan media perkembangan yang kondusif untuk individu-individu mahasiswa kedokteran. Lihatlah, ia bisa turut berpengalaman dan terjun langsung baik sebagai staf di bidang pengembangan sumber daya manusia organisasi, pendidikan profesi, kajian strategis, pengabdian masyarakat, dana usaha, media informasi, maupun badan-badan kelengkapan seperti penelitian, jurnalistik, siaga bencana, reproduksi dan AIDS, dan lain-lain.
Yang perlu ditingkatkan ke depannya saya kira adalah kualitas kinerja dan keberadaan bidang-bidang dan badan-badan kelengkapan tersebut di atas, serta kuantitas dan kualitas sumber daya manusia mahasiswa kedokteran yang terlibat di dalamnya. Semakin massif, semakin baik.
- Penaungan institusi.
Bagaimanapun, ISMKI tak akan mampu betul-betul menjangkau seluruh mahasiswa kedokteran di Indonesia yang jumlahnya bisa mencapai puluhan ribu. Disinilah, letak vital institusi sebagai ujung tombak pencapaian tujuan pergerakan ISMKI. ISMKI berkualitas baik, tanpa institusi yang cukup kuat untuk bisa mentransmisikan kebaikan tersebut ke institusinya, adalah percuma. Takkan terasa efeknya. Pun sama, dan malah lebih menyedihkan lagi, ketika ISMKI tidak bisa memberikan kebermanfaatan konkretnya untuk institusi, sementara institusi-institusi sudah berkembang demikian mapannya dan tak lagi merasakan kebutuhan akan keberadaan ISMKI. ISMKI terancam bubar, dan harapan akan kesatuan mahasiswa kedokteran Indonesia bisa menjadi terbatas sebagai angan kosong semata.
Maka ISMKI perlu berangkat dari institusi.
Bagaimana harapan institusi?
Bagaimana aspirasi institusi?
Apa kebutuhan institusi?
Tanpa kapabilitas untuk menggali, menampung dan merealisasikannya, pergerakan ISMKI terancam hanya akan menjadi pergerakan hampa yang kosong makna dan arti.
- Sharing dan transfer pengalaman dari pendahulu.
Kita sangat beruntung sebab dalam dunia profesi kedokteran pun, ikatan antardokter adalah salah satu ikatan profesi yang paling solid, bahkan di seantero dunia. Hal inilah yang bisa kita manfaatkan. Dokter-dokter pendahulu telah lebih dulu mengisi berbagai pos pembangunan di masyarakat. Nanti kita akan mengambil estafet, melanjutkan yang baik dan memperbaiki yang kurang baik. Maka menjadi suatu keperluan yang sangat dari kita untuk bisa menggali dan mempelajari pengalaman-pengalaman yang telah dialami oleh pendahulu-pendahulu tersebut.
Hal ini bisa kita wujudkan. Kita bisa mengundang dokter-dokter yang bergerak di Komisi Kesehatan DPR RI, Depkes RI, Dinkes setempat, IDI, maupun ikatan-ikatan profesi/spesialisasi lain seperti POGI, PDKI, PAPDI, Perdossi dan lain-lain.
- Sinergisasi gerakan dengan aliansi sejenis.
Pada tataran selanjutnya, isu kesehatan yang kita usung ternyata tidak hanya digarap oleh ISMKI saja. Ada mahasiswa kesehatan masyarakat, mahasiswa kedokteran gigi, mahasiswa ilmu keperawatan dan juga mahasiswa ilmu farmasi yang dapat ambil bagian. Bayangkan kekuatan sebesar apa yang dapat terwujud jika keseluruhannya bisa berjalan bersama-sama.
Dan tidak hanya dengan aliansi sejenis dalam bidang kesehatan! Bahkan dengan aliansi mahasiswa hukum, teknik lingkungan atau mungkin kesejahteraan social ilmu politik misalnya, saya kira akan banyak sekali potensi kerjasama yang bisa digali.
Kemudian dengan aliansi umum seperti BEM SI (Seluruh Indonesia). Saya melihat suatu peluang untuk ISMKI—bersama dengan ikatan mahasiswa kesehatan lain, JMKI—dapat bergerak sejalan sebagai ujung tombak pergerakan, sumbangsih pemikiran dan pengabdian dalam bidang kesehatan, diantara bidang-bidang kehidupan lain—politik, hukum, ekonomi, social budaya—yang mungkin digarap oleh ikatan mahasiswa lain.
Tentu saja konsep hanya akan sekadar menjadi konsep tanpa realisasi.
Kekurangan akan selalu ada, dan yang menjadi pembeda kemudian hanyalah optimisme dan kemauan untuk turun tangan mengubah keadaan. Saya juga bagian dari kekurangan, tapi semoga juga bisa menjadi bagian dari pembaharuan.
Semoga kita bisa menjadi bagian dari penyusun konsep strategis, serta pula bagian dari realisasi menuju kemenangan.
Menuju keberhasilan pembangunan Indonesia dalam bidang kesehatan.
Jatinangor, 9 Juni 2009
Almira FKUP'06


